Showing posts with label Disaster Manajemen. Show all posts
Showing posts with label Disaster Manajemen. Show all posts

Thursday, 1 December 2011

The 27th CMAAO Congress & 47th Council Meeting


 
THE NATURAL DISASTER RELEATED TO HEALTH PROBLEM :
INDONESIA EXPERIENCE

Fachmi Idris
President of Confideration Medical Association in Asia Oceania
Lectures of Public Health Of Medical Faculty of Sriwijaya University, Indonesia

Experience of disaster has led to management cycles strategies concepts for handling them. Those strategies are based on :
1.       The definition oh the disaster itself, that is whether it consists of sudden impact event or not
2.       The kind if disaster, is it natural or a man made disaster or both and
3.       The loss of lives or economic impact or both 

In “ normal condition”, disaster management cyles must start from preparedness and how to socialize the community about the early warning signs, continuing to prevention and mitigation program, reconstruction until rehabilitation. Actually the disaster management cycles must not start from preparedness. It depends on whwn the impact happened. 

In Indonesia there are two kinds of disasters, namely natural disaster and man made disaster. For the natural disaster, Indonesia has land slides, volcanic eruption, earthquake, tsunami, flood, tropical storm and “small tornadoes” (Indonesia term : Putting beliung) and major epidemic diseases. For the man made disasters, Indonesia has terrorist attacks, railroad accidents,aircraft crashes, sport disasters, fires and shipwrecks.

In the context of health, for example earthquake, the problem in Indonesia when handling the situation related to people displacement and destruction of health facilities. The problem of displacement is the characterof Indonesia people (victims) that prefer to stay close the area of disaster and or stay in houses of relatives near to unsafe area of disaster. The problem for health facilities is that, frequently facilities are damaged and there are significant losses of some medical equipment or laboratory materials. These problems make the health service collapse, and at he same time the children and elderly became most vulnerable without adequate health service. Infected wounds and respiratory problems occur in trapped victims. But, different from tsunami that happened in Aceh Indonesia in2004, many earthquakes in Indonesia did not kill victim massively unless there are bad housing construction in the area of earthquake. 

Another example of natural disaster related to health problrm is sudden flood. It may cause so much death caused by trauma, and it also leaves some severe injury. Hypothermia  and respiratory infection were usual  but not epidemics. There are also problems in providing clean water supply leading the deterioration of sanitation causing an increases of enteric and other water related diseases, like common diarrhea. 

In term of Indonesia experience when natural di sasters happen, the primary problem is the need to rehabilitate the health services and facilities, intensify epidemiological surveillance  and vector control, and increase the public awarness on the true danger of the situation. Based on those experiences, it is important to a high standard, and mitigation measures program in hospitals are vital for avoiding loss of patient and staff, ensuring that facilities and health services will function properly after disaster, and made victims always far away from the area disaster . 


Pre - Conference Seminar
November 10-12-2011, Taipei Taiwan 

Tuesday, 11 January 2011

CARA TEPAT MEMBANTU KORBAN BENCANA

Bencana alam yang hampir selalu terjadi di membuat kita harus menyiapkan diri agar dapat siap bila itu terjadi dan juga dapat membantu meringankan penderitaan para korban yang terkena bencana dengan cepat dan tepat.

Sebagai orang yang membantu dan biasanya disebut relawan yang akan memberikan pendampingan kepada para korban musibah, kita harus menyadari bahwa mudah marah, sinis, tidak sabat dan cemas adalah reaksi yang biasa muncul saat seseorang mengalami stress.

Ada beberapa aturan emas yang perlu diperhatikan, terutama bila menghadapi anak-anak, diantaranya :

Kenali orang yang akan kita bantu

Membantu orang yang sudah anda kita tentu lebih memudahkan kita dalam memulai komunikasi. Tetapi jika kita hendak membantu orang yang betul-betul asing, minimal amati dan kenali lingkungannya. Jangan sampai kita melanggar hal-hal yang dianggap tabu baginya. Berfoto- foto dengan menjadikan mereka sebagai objek akan menyakiti hati mereka. Jangan mendesak mereka untuk membuka diri. Berikanlah pertanyaan yang sederhana jika mereka sudah mulai terbuka.

Lakukan kontak secara proposional

Hindari kontak yang berlebihan sehingga terkesan kita terlalu mencampuri urusan korban. Sebaliknya, juga jangan menghindari korban. Ciptakan kontak yang proposional dan saling menghormati.

Perhatikan cara berbicara dan pemilihan kata

Berbicaralah dengan tenang, sabar dan jika perlu secara perlahan, Pemilihan kata juga perlu mendapat perhatian; hindari kata-kata yang rumit. Dalam kondisi ini lebih perlu memberikan kesan penuh perhatian daripada kesan sangat tau.

Perhatikan apa yang diinginkannya

Dengarkan apa yang disampaikan dan pastikan apakah kita dapat memahami tujuan hidupnya. Kemudian pelajari apa yang kita dapat lakukan untuk membantu.

Berikan informasi yang akurat dan sesuai dengan usia korban

Kecemasan dan ketakutan seringkali terjadi karena tidak ada informasi yang akurat. Karena itu pemberian informasi harus benar-benar dilakukan secara hati-hati. Informasi yang mungkin dianggap benar bagi sebagian orang bisa jadi menimbulkan reaksi yang luar biasa sebagaimana yang terjadi ketika salah satu televise swasta memberitakan hal-hal yang sifatnya mistis dan tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

PERSIAPAN UNTUK DIRI SENDIRI

Menurut salah seorang psikolog, yang juga tak kalah penting dalam menghadapi musibah adalah kesiapan diri sendiri. Jika kita memahami bahwa tempat tinggal kita mempunyai resiko tertentu, ada baiknya kita mempersiapkan diri – kalau perlu dengan melakukan latihan.

Penduduk daerah yang rentan seperti Padang, misalnya, sebaiknya sudah mengenal tanda-tanda gempa dan tindakan apa yang perlu diambil saat terjadi gempa di rumah, mobil atau gedung bertingkat. Demikian pula penduduk didaerah rawan banjir. Sebelum banjir tiba, sebaiknya memasang beberapa pengaman dirumah dan membiasakan diri membungkus surat-surat penting dalam kemasan tahan air.

Dengan demikian kita sudah sangat terkondisi secara mental sehingga ketika bencana tiba, kita tidak mengalami shock dan kehilangan orientasi.

Lalu bagaimana kita menyikapi bencana yang terasa berat bagi kita ?

- Jangan memaksa diri untuk bersikap tegar.Terimalah kejadian itu sebagai masa dan izinkan diri kita untuk merasa sedih

- Carilah teman untuk berbagi; semakin cepat kita membicarakannya semakin cepat proses penyembuhan

- Lakukan relaksasi yang paling sesuai, apakah sekadar bernapas panjang, bernyanyi, atau berolahraga. Namun, hindari pemakaian zat-zat yang merusak kesehatan, seperti alcohol atau rokok

- Hindari pengambilan keputusan agar anda tidak terlalu terbebani

- Walau tidak mudah, tetaplah menjali hubungan dengan saudara, kerabat, dan teman karena mereka dapat menjadi pengingat bagi kita bahwa ada hal bermakna lainnya yang perlu dijaga.

- Dan yang penting berdoalah. Berdoa tidak saja bernilai ibadah, tetapi juga merupakan relaksasi dan pelepasan emosi negative yang paling efektif.

Membantu diri sendiri apalagi membantu sesama akan menimbulkan perasaan puas dan berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang seberapapun. Apalagi kalau hal itu dilakukan dengan penuh keikhlasan. Berkah yang akan kita terima sebagai imbalan biasanya akan lebih besar dari apapun yang kita berikan.

Sumber : Majalah Nirmala

Thursday, 11 November 2010

Tips Menghadapi Hujan Abu Vulkanik


Aktivitas letusan Gunung Merapi belum berhenti. Setelah menngeluarkan erupsi pada Selasa, 26 Oktober 2010 lalu, letusan susulan Gunung Merapi terus terjadi. Sabtu, 30 Oktober 2010 malam, lagi-lagi gunung teraktif di dunia ini mengeluarkan awan panasnya. Disusul letusan berikutnya pada Senin , 1 November 2010.

Abu vulkanik akibat letusan Gunung Merapi terus beterbangan ke berbagai daerah di sekitar gunung tersebut. Tak hanya korban harta dan nyawa, meletusnya Gunung Merapi juga membawa dampak negatif bagi kesehatan.

Masyarakat sebaiknya mewaspadai abu ini karena dapat mengganggu kesehatan.

Orang-orang yang terkena debu dari letusan gunung berapi biasanya mengalami keluhan pada mata, hidung, kulit tenggorokan serta pernafasan. Efek kesehatan ini dapat terjadi akibat paparan jangka pendek atau pun jangka panjang.

Hujan abu vulkanik umumnya terdiri dari partikel yang bentuknya tidak teratur, tajam dan bergerigi. Partikel ini terdiri dari berbagai zat. Dengan kombinasi isi partikel dan bentuk yang tidak teratur itu membuat abu vulkanik bersifat sangat menghancurkan.

Abu yang dikeluarkan dari kawah gunung bervariasi; tergantung dari intensitas, ukuran partikel, jenis pertikel, kekuatan letusan dan kecepatan angin yang membawa partikel-partikel tersebut. Hujan abu ini bisa disertai dengan guntur, kilat yang keras serta bau belerang yang kuat.


Dikutip dari Idaho Department of Environmental Quality, Senin (1/11/2010) ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah abu vulkanik masuk ke dalam tubuh, yaitu:

  1. Upayakan mencapai daerah aman. Di tempat tersebut, usahakan untuk lebih banyak tinggal berdiam di dalam rumah atau tempat pengungsian, jangan berada di tempat terbuka bila tidak ada keperluan penting. Hal ini untuk meminimalkan paparan debu. Selain itu hindari aktivitas yang berat.
  2. Jika memiliki penyakit asma atau gangguan pernapasan lain, pastikan memiliki pasokan obat yang cukup dan pelajari manajemen bernapas. Jika timbul masalah pernapasan lain segera hubungi dokter.
  3. Usahakan untuk menghindari pintu atau jendela ketika akumulasi abu datang.
  4. Jika ingin keluar, gunakanlah masker wajah untuk mengurangi inhalasi partikel abu. Menggunakan masker memang bisa membuat napas menjadi lebih sulit, tapi penggunaan masker penting untuk menghindari inhalasi abu.
  5. Jika tidak ada masker, gunakan sapu tangan, kain atau pakaian lain yang dapat menyaring partikel abu. Untuk meningkatkan efektivitasnya bisa membasahi kain dengan menggunakan air.
  6. Gunakan kacamata dan melepaskan lensa kontak untuk melindungi mata dari iritasi.
  7. Usahakan untuk selalu menggunakan baju lengan panjang dan juga celana panjang jika ingin bepergian atau membersihkan abu.
  8. Hati-hati saat mengonsumsi air minum, usahakan air yang dikonsumsi tidak terpapar atau tercemar abu vulkanik.
  9. Usahakan untuk menyiapkan pertolongan pertama seperti obat, minum, makanan dan pakaian ganti.
  10. Jika terkena luka bakar, cedera dan menghirup gas atau abu, segera minta bantuan medis untuk mendapatkan perawatan.
  11. Luka bakar yang timbul akibat abu vulkanik umumnya lebih dalam dan bisa mencapai otot, untuk itu diperlukan pertolongan segera agar luka bakar tidak semakin meluas yang dapat mengakibatkan kematian.


Bagaimana pertolongan pertamanya?

Jika mata kemasukan abu atau debu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai pertolongan pertama, yaitu:

  1. Jangan menggosok mata, karena akan membuat permukaan mata tergores yang nantinya menyebabkan infeksi seperti mata merah atau iritasi.
  2. Pejamkan mata untuk beberapa saat hingga air mata keluar karena air mata akan berusaha membersihkan mata dari debu atau partikel yang masuk.
  3. Jika tidak berhasil bisa dengan cara mencelupkan mata ke dalam air yang bersih untuk membantu mengeluarkannya.
  4. Jika belum bisa keluar juga segera bawa ke dokter untuk mendapatkan perawatan.


Jika tubuh mengalami luka bakar, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yaitu:

  1. Usahakan untuk membersihkan luka jika tidak parah dengan menggunakan air mengalir.
  2. Saat tubuh terkena luka bakar, maka dengan sendirinya tubuh akan mengeluarkan cairan untuk mengobatinya.
  3. Jika luka bakarnya cukup dalam atau luas, segera minta bantuan medis. Hal ini untuk mencegah terjadinya kerusakan organ yang lebih parah serta dehidrasi yang bisa memicu kematian.


Jika mengalami sesak napas akibat menghirup abu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yaitu:

  1. Berikan bantuan obat semprot inhaler.
  2. Membantu seseorang ke posisi yang nyaman terutama duduk tegak sambil bersandar, jangan memposisikan orang untuk tiduran
  3. Cobalah untuk mengajaknya bernapas perlahan-lahan dan dalam
  4. Usahakan untuk mengajaknya ke tempat yang lebih bersih untuk menghindari paparan yang lebih berat.
  5. Jika obat inhaler tidak memberikan pengaruh atau justru bertambah parah, mintalah pertolongan medis.

Thursday, 7 October 2010

SIAGA DITENGAH ANCAMAN

TAK ADA PILIHAN.PAHAMI LANGKAH-LANGKAH SIAGA BENCANA, AGAR RISIKO DAN DAMPAKNYA TIDAK TERLALU BESAR

Indonesia merupakan Negara yang keanekaragaman sumber daya alam. Letak Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng dunia menyebabkan peristiwa gempa bumi sudah menjadi peristiwa rutin yang terjadi sepanjang tahun. Tidak kurang sedikitnya terjadi gempa 450 kali setiap tahun di Indonesia . Titik gempa tersebar dari ujung barat hingga ujung timur kepulauan Indonesia.

Sebagai Negara yang memiliki gunung berapi aktif terbanyak di dunia. Indonesia memiliki tingkat kerawanan yang sangat tinggi. Bencana gunung meletus bisa datang sewaktu-waktu.

Peristiwa bencana terbesar yang akan selalu teringat Tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta dan Sumatera Barat , dan terakhir banjir bandang di Papua Barat lainnya memberi pelajaran berharga. Ketika bencana telah datang, para korban terlanjur kehilangan keluarga, harta, pekerjaan, maupun harapan. Karenanya jika dulu kita cenderung berpikir, ketika terjadi bencana kita harus melakukan apa, sekarang hal itu mestu berubah, kita harus diberikan pengetahuan agar mampu mengantisipasi bencana.Tujuannya agar risiko bencana dapat berkurang, dan dampaknya tidak terlalu berat.

Memang tak ada pilihan bagi kita, selain berdamai dengan alam, dan hidup akrab dengan bencana. Caranya dengan mencari informasi bencana dan siaga menghadapinya.

BANJIR


SIAGA BANJIR

Sebelum banjir itu datang (karena kita tahu pastinya akan terjadi) ada baiknya kita mempersiapkan diri dengan :

  • Membersihkan lingkungan sekitar rumah, saluran air atau selokan
  • Menentukan lokasi posko banjir yang tepat untuk mengungsi, lengkap dengan fasilitas dapur umum, MCK dan pasokan air bersih, bersama pengurus RT/RW setempat
  • Koordinasi dengan pengurus RT/RW setempat untuk penyediaan tali, tambang, perahu karet dan pelampung, dan peralatan komunikasi
  • Pantau informasi terkini lewat televisi maupun radio, senter, korek gas dan lilin, tikar, jas hujan dan ban karet
  • Amankan dokumen penting, seperti akta kelahiran, buku tabungan, sertifikat dan benda-benda berharga
  • Siapkan makanan mudah saji, seperti mie instan, makanan bayi, juga obat-obat darurat.

PADA SAAT BANJIR

  • Matikan aliran listrik didalam rumah
  • Hindari berjalan didekat saluran air agar tidak terseret arus banjir
  • Segera amankan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi
  • Jika air terus meninggi, hubungi instansi yang terkait dengan penanggulangan bencana seperti kantor kepala desa, lurah maupun camat

SETELAH BANJIR

  • Membersihkan rumah, dan gunakan antiseptik untuk membunuh kuman penyebab penyakit
  • Waspada terhadap kemungkinan binatang berbisa, seperti ular dan lipan atau binatang penyebar penyakit seperti tikus, kecoak dan nyamuk
  • Waspada banjir susulan


GEMPA BUMI

Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng dunia, yaitu Eurasia, Lempeng pasifik dan lempeng Australia. Ketiganya bergerak saling menumbuk. Tumbukan ini membentuk penunjaman memanjang di bagian barat Pulau Sumatera, sebelah selatan pulau jawa hingga ke bali dan Nusa Tenggara, sebelah utara Kepulauan Maluku dan sebelah Utara Papua. Efek lain dari tumbukan ini adalah terbentuknya palung samudera,lipatan dan patahan dibusur kepulauan, sebaran gunung api dan sumber gempa bumi.

Menurut data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi bencana Geologi, jumlah gunung api di Indonesia berjumlah 129. Ini merupakan 13% dari jumlah gunung berapi didunia. Inilah sebabnya Indonesia sangat rawan terhadap bencana letusan gunung merapi dan gempa bumi. Gempa yang terjadi di wilayah antara lempeng jaraknya bisa ratusan kilometer dari pantai. Namun dampaknya bisa terasa hingga ke daratan yang jaraknya sangat jauh, seperti gedung-gedung di Jakarta yang ikut bergoyang karena dihentak gempa.

Yang mengerikan, disejumlah pantai yang bentuknya sedang curam, jika terjadi gempa bumi dengan sumber didasar laut maka dapat menimbulkan gelombang tsunami.

SIAGA GEMPA BUMI

  • Buatlah rencana darurat yang baik
  • Tentukan jalan melarikan diri, dan pastikan seluruh keluarga anda mengetahui jalan teraman untuk meninggalkan rumah setelah gempa
  • Tentukan tempat bertemu. Jika anggota keluarga anda terpencar, tentukan dua tempat untuk bertemu. Misalnya, tempat yang lokasinya paling aman dekat rumah dan tempat kedua adalah bangunan atau taman diluar
  • Siapkan alat pertolongan pertama

SAAT GEMPA

  • Jika anda didalam ruangan dan memungkinkan untuk keluar segera menuju tempat terbuka, seperti lapangan. Jika tidak, jongkok atau tiarap dilantai. Gunakan bangku, meja, atau perlengkapan rumah tangga yang kuat sebagai perlindungan diri.
  • Jika anda berada digedung bertingkat tinggi, jauhi jendela dan jangan berada disisi tembok. Berlindung dibawah meja didekat pilar atau tembok bagian dalam.Jangan gunakan lift atau elevator
  • Jika malam hari dan anda ditempat tidur, cari tempat yang aman di bawah tempat tidur atau meja yang kuat.Selalu sediakan lampur senter dekat tempat tidur.
  • Jika anda diluar, cari tempat terbuka, jauh dari bangunan, pohon tinggi dan jaringan listrik. Hindari rekahan akibat gempa yang dapat membahayakan anda
  • Jika anda mengemudi, berhentilah jika aman. Menjauhlah dari jembatan, jembatan laying atau terowongan
  • Jika anda di pengunungan, dekat dengan lereng atau jurang yang rapuh, waspadalah dengan batu atau tanah longsor yang runtuh akibat gempa
  • Jika anda dipantai, segera berpindah kedaerah yang agak tinggi atau beberapa ratus meter dari pantai. Gempa dapat menyebabkan tsunami.

SETELAH GEMPA

  • Periksa luka ditubuh anda, bantulah mereka yang terluka dan terjebak
  • Periksa api atau bahaya kebakaran, kebocoran gas, kerusakan saluran listrik dirumah atau bangunan
  • Singkirkan barang-barang yang mungkin berbahaya, termasuk obat-obatan yang tumpah
  • Waspada terhadap gempa susulan
  • Tetaplah menjauh dari bangunan meski gempa telah berhenti. Anda dapat masuk kedalam bangunan, setelah mendapat pemberitahuan dari pihak berwenang bahwa gempa tidak akan terjadi lagi
  • Gunakan sepatu atau alas kaki kuat untuk menghindari pecahan kaca, paku dan reruntuhan bangunan

GUNUNG BERAPI

Gunung berapi memuntahkan berbagai jenis materi seperti lava, gas beracun, batu berpijar, hingga hujan abu dan awan panas. Pada gunung api yang terletak dipulau, letusan juga menyebabkan air laut terdorong kearah pantai sehingga terjadi gelombang tsunami.

Dengan jumlah ancaman gunung berapi yang relatif banyak, kita patut mengetahui informasi lebih dini. Untuk mengetahui gunung-gunung yang sedang aktif saat ini, bisa kita kunjungi di situs Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (portal.vsi.esdm.go.id). Indikator warna berkedip-kedip disitusnya menandakan status gunung, misalnya aktif normal, waspada, siaga atau awas.

SIAGA GUNUNG BERAPI

  • Mengenali lingkungan tempat tinggal yang rawan bahaya sehingga tak boleh didekati, seperti sungai, lereng, daerah aliran lahar, longsoran dan lainnya
  • Merencanakan jalur evakuasi
  • Mengenalkan bahaya gunung berapi ditingkat keluarga,termasuk anak-anak
  • Membuat system komunikasi dan peringatan tanda bahaya. Misalnya , kentongan atau sirene
  • Mempersiapkan kebutuhan dasar untuk pengungsian

SAAT GUNUNG MELETUS

  • Menghindari daerah yang rawan bencana,seperti lereng gunung, lembah dan sungai
  • Melindungi dirii dari bahaya gas beracun dengan masker atau sapu tangan basah
  • Persiapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan
  • Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh, seperti baju lengan panjang, selana panjang dan topi
  • Saat turunnya awan panas, usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan
SETELAH GUNUNG MELETUS
  • Menjauhi wilayah yang terkena hujan abu
  • Bersihkan atap dari timbunan abu. Karena bebannya bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan
  • Terus memantau perkembangan aktivitas gunung lewat radio, televise atau media informasi lainnya .