Pre - Conference Seminar
November 10-12-2011, Taipei Taiwan
Bencana alam yang hampir selalu terjadi di membuat kita harus menyiapkan diri agar dapat siap bila itu terjadi dan juga dapat membantu meringankan penderitaan para korban yang terkena bencana dengan cepat dan tepat.
Sebagai orang yang membantu dan biasanya disebut relawan yang akan memberikan pendampingan kepada para korban musibah, kita harus menyadari bahwa mudah marah, sinis, tidak sabat dan cemas adalah reaksi yang biasa muncul saat seseorang mengalami stress.
Ada beberapa aturan emas yang perlu diperhatikan, terutama bila menghadapi anak-anak, diantaranya :
Kenali orang yang akan kita bantu
Membantu orang yang sudah anda kita tentu lebih memudahkan kita dalam memulai komunikasi. Tetapi jika kita hendak membantu orang yang betul-betul asing, minimal amati dan kenali lingkungannya. Jangan sampai kita melanggar hal-hal yang dianggap tabu baginya. Berfoto- foto dengan menjadikan mereka sebagai objek akan menyakiti hati mereka. Jangan mendesak mereka untuk membuka diri. Berikanlah pertanyaan yang sederhana jika mereka sudah mulai terbuka.
Lakukan kontak secara proposional
Hindari kontak yang berlebihan sehingga terkesan kita terlalu mencampuri urusan korban. Sebaliknya, juga jangan menghindari korban. Ciptakan kontak yang proposional dan saling menghormati.
Perhatikan cara berbicara dan pemilihan kata
Berbicaralah dengan tenang, sabar dan jika perlu secara perlahan, Pemilihan kata juga perlu mendapat perhatian; hindari kata-kata yang rumit. Dalam kondisi ini lebih perlu memberikan kesan penuh perhatian daripada kesan sangat tau.
Perhatikan apa yang diinginkannya
Dengarkan apa yang disampaikan dan pastikan apakah kita dapat memahami tujuan hidupnya. Kemudian pelajari apa yang kita dapat lakukan untuk membantu.
Berikan informasi yang akurat dan sesuai dengan usia korban
Kecemasan dan ketakutan seringkali terjadi karena tidak ada informasi yang akurat. Karena itu pemberian informasi harus benar-benar dilakukan secara hati-hati. Informasi yang mungkin dianggap benar bagi sebagian orang bisa jadi menimbulkan reaksi yang luar biasa sebagaimana yang terjadi ketika salah satu televise swasta memberitakan hal-hal yang sifatnya mistis dan tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.
PERSIAPAN UNTUK DIRI SENDIRI
Menurut salah seorang psikolog, yang juga tak kalah penting dalam menghadapi musibah adalah kesiapan diri sendiri. Jika kita memahami bahwa tempat tinggal kita mempunyai resiko tertentu, ada baiknya kita mempersiapkan diri – kalau perlu dengan melakukan latihan.
Penduduk daerah yang rentan seperti Padang, misalnya, sebaiknya sudah mengenal tanda-tanda gempa dan tindakan apa yang perlu diambil saat terjadi gempa di rumah, mobil atau gedung bertingkat. Demikian pula penduduk didaerah rawan banjir. Sebelum banjir tiba, sebaiknya memasang beberapa pengaman dirumah dan membiasakan diri membungkus surat-surat penting dalam kemasan tahan air.
Dengan demikian kita sudah sangat terkondisi secara mental sehingga ketika bencana tiba, kita tidak mengalami shock dan kehilangan orientasi.
Lalu bagaimana kita menyikapi bencana yang terasa berat bagi kita ?
- Jangan memaksa diri untuk bersikap tegar.Terimalah kejadian itu sebagai masa dan izinkan diri kita untuk merasa sedih
- Carilah teman untuk berbagi; semakin cepat kita membicarakannya semakin cepat proses penyembuhan
- Lakukan relaksasi yang paling sesuai, apakah sekadar bernapas panjang, bernyanyi, atau berolahraga. Namun, hindari pemakaian zat-zat yang merusak kesehatan, seperti alcohol atau rokok
- Hindari pengambilan keputusan agar anda tidak terlalu terbebani
- Walau tidak mudah, tetaplah menjali hubungan dengan saudara, kerabat, dan teman karena mereka dapat menjadi pengingat bagi kita bahwa ada hal bermakna lainnya yang perlu dijaga.
- Dan yang penting berdoalah. Berdoa tidak saja bernilai ibadah, tetapi juga merupakan relaksasi dan pelepasan emosi negative yang paling efektif.
Membantu diri sendiri apalagi membantu sesama akan menimbulkan perasaan puas dan berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang seberapapun. Apalagi kalau hal itu dilakukan dengan penuh keikhlasan. Berkah yang akan kita terima sebagai imbalan biasanya akan lebih besar dari apapun yang kita berikan.
Sumber : Majalah Nirmala

Aktivitas letusan Gunung Merapi belum berhenti. Setelah menngeluarkan erupsi pada Selasa, 26 Oktober 2010 lalu, letusan susulan Gunung Merapi terus terjadi. Sabtu, 30 Oktober 2010 malam, lagi-lagi gunung teraktif di dunia ini mengeluarkan awan panasnya. Disusul letusan berikutnya pada Senin , 1 November 2010.
Abu vulkanik akibat letusan Gunung Merapi terus beterbangan ke berbagai daerah di sekitar gunung tersebut. Tak hanya korban harta dan nyawa, meletusnya Gunung Merapi juga membawa dampak negatif bagi kesehatan.
Masyarakat sebaiknya mewaspadai abu ini karena dapat mengganggu kesehatan.
Dikutip dari Idaho Department of Environmental Quality, Senin (1/11/2010) ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah abu vulkanik masuk ke dalam tubuh, yaitu:
Bagaimana pertolongan pertamanya?
Jika mata kemasukan abu atau debu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai pertolongan pertama, yaitu:
Jika tubuh mengalami luka bakar, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yaitu:
Jika mengalami sesak napas akibat menghirup abu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yaitu:
TAK ADA PILIHAN.PAHAMI LANGKAH-LANGKAH SIAGA BENCANA, AGAR RISIKO DAN DAMPAKNYA TIDAK TERLALU BESAR
Indonesia merupakan Negara yang keanekaragaman sumber daya alam. Letak Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng dunia menyebabkan peristiwa gempa bumi sudah menjadi peristiwa rutin yang terjadi sepanjang tahun. Tidak kurang sedikitnya terjadi gempa 450 kali setiap tahun di Indonesia . Titik gempa tersebar dari ujung barat hingga ujung timur kepulauan Indonesia.
Sebagai Negara yang memiliki gunung berapi aktif terbanyak di dunia. Indonesia memiliki tingkat kerawanan yang sangat tinggi. Bencana gunung meletus bisa datang sewaktu-waktu.
Peristiwa bencana terbesar yang akan selalu teringat Tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta dan Sumatera Barat , dan terakhir banjir bandang di Papua Barat lainnya memberi pelajaran berharga. Ketika bencana telah datang, para korban terlanjur kehilangan keluarga, harta, pekerjaan, maupun harapan. Karenanya jika dulu kita cenderung berpikir, ketika terjadi bencana kita harus melakukan apa, sekarang hal itu mestu berubah, kita harus diberikan pengetahuan agar mampu mengantisipasi bencana.Tujuannya agar risiko bencana dapat berkurang, dan dampaknya tidak terlalu berat.
Memang tak ada pilihan bagi kita, selain berdamai dengan alam, dan hidup akrab dengan bencana. Caranya dengan mencari informasi bencana dan siaga menghadapinya.
BANJIR
SIAGA BANJIR
Sebelum banjir itu datang (karena kita tahu pastinya akan terjadi) ada baiknya kita mempersiapkan diri dengan :
PADA SAAT BANJIR
SETELAH BANJIR
GEMPA BUMI
Menurut data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi bencana Geologi, jumlah gunung api di Indonesia berjumlah 129. Ini merupakan 13% dari jumlah gunung berapi didunia. Inilah sebabnya Indonesia sangat rawan terhadap bencana letusan gunung merapi dan gempa bumi. Gempa yang terjadi di wilayah antara lempeng jaraknya bisa ratusan kilometer dari pantai. Namun dampaknya bisa terasa hingga ke daratan yang jaraknya sangat jauh, seperti gedung-gedung di Jakarta yang ikut bergoyang karena dihentak gempa.
Yang mengerikan, disejumlah pantai yang bentuknya sedang curam, jika terjadi gempa bumi dengan sumber didasar laut maka dapat menimbulkan gelombang tsunami.
SIAGA GEMPA BUMI
SAAT GEMPA

SETELAH GEMPA
GUNUNG BERAPI
Gunung berapi memuntahkan berbagai jenis materi seperti lava, gas beracun, batu berpijar, hingga hujan abu dan awan panas. Pada gunung api yang terletak dipulau, letusan juga menyebabkan air laut terdorong kearah pantai sehingga terjadi gelombang tsunami.
Dengan jumlah ancaman gunung berapi yang relatif banyak, kita patut mengetahui informasi lebih dini. Untuk mengetahui gunung-gunung yang sedang aktif saat ini, bisa kita kunjungi di situs Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (portal.vsi.esdm.go.id). Indikator warna berkedip-kedip disitusnya menandakan status gunung, misalnya aktif normal, waspada, siaga atau awas.
SIAGA GUNUNG BERAPI
SAAT GUNUNG MELETUS