Thursday, 24 May 2012

Sistem Pelayanan Kesehatan (1)

Sistem Pelayanan KesehatanPrint
Akses ke pelayanan kesehatan merupakan hak asasi manusia dan negara bertanggung jawab untuk memenuhinya. Di beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia, pelayanan kesehatannya tumbuh menjadi industri yang tak terkendali dan menjadi tidak manusiawi. 

Mengalami hal yang oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai “the commercialization of healthcare in unregulated health systems”.Kondisi ini ditandai dengan maraknya komersialisasi pelayanan dan pendidikan, yang dipicu oleh pembiayaan kesehatan yang belum baik. Setelah deklarasi Alma Ata (1978), program kesehatan menjadi gerakan politik universal. Deklarasi ini telah menjadi tonggak sejarah peradaban manusia.Kesehatan diakui sebagai hak asasi manusia tanpa memandang status sosial ekonomi, ras, dan kewarganegaraan, agama,dan gender.

Sebagai hak asasi manusia, kesehatan menjadi sektor yang harus diperjuangkan,serta mengingatkan bahwa kesehatan berperan sebagai alat pembangunan sosial,dan bukan sekadar hasil dari kemajuan pembangunan ekonomi semata. Kesadaran ini melahirkan konsep primary health care (PHC) yang intinya: Pertama, menggalang potensi pemerintah- swasta-masyarakat lintas sektor, mengingat kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Kedua, menyeimbangkan layanan kuratif dan preventif serta menolak dominasi elite dokter yang cenderung mengutamakan pelayanan rumah sakit, peralatan canggih, dan mahal.

Ketiga, memanfaatkan teknologi secara tepat guna pada setiap tingkat pelayanan. Berbagai negara di belahan dunia, seperti di Uni Eropa, Amerika Latin, serta di beberapa negara Asia, berhasil menata kembali sistem kesehatannya dengan kembali menerapkan primary health care (PHC) sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. Di Indonesia pelayanan kesehatan primer masih mengalami marginalisasi.Konsep PHC diinterpretasikan terbatas hanya pada bangunan fisik puskesmas, program puskesmas, pelayanan strata pertama di sarana pemerintah,serta pendekatan upaya kesehatan berbasis masyarakat seperti program posyandu, bidan di desa,dan desa siaga.

Hal ini menyebabkan dikerdilkannya PHC sebagai konsep dan strategi pemban g u n a n k e s e - h a t a n menjadi sekedar program pemerintah untuk pelayanan masyarakat bawah. Di sisi lain pelayanan kesehatan swasta (seperti praktik dokter,klinik,rumah sakit,dan sebagainya) seolah di luar naungan konsep PHC.Pelayanan swasta yang jumlahnya jauh lebih banyak dibanding milik pemerintah (negara) dibiarkan bebas mengikuti mekanisme pasar. Model layanan yang dilakukan sarat dengan kuratif, berdampak besar dalam membangun mind set masyarakat untuk berorientasi kuratif,dan mendorong tumbuhnya komersialisasi layanan kesehatan, bahkan termasuk di fasilitas kesehatan milik pemerintah.

Lebih dari itu,seringkali dipersepsikan bahwa layanan kesehatan swasta seperti praktik dokter, klinik,dan rumah sakit sebatas melakukan aktivitas kuratif dan rehabilitatif sehingga terbebas dari promotif dan preventif. Dianggapnya, pelayanan promotif dan preventif hanya berlaku di dinas kesehatan dan pusksesmas. Pendikotomian semacam ini berakibat tidak terselenggaranya pelayanan kesehatan secara paripurna di setiap e n t i t a s layanan. S i s t e m pendidikan yang belum link and match dengan sistem pelayanan menjadikan pendidikan sering dituding sebagai salah satu penyebab pengerdilan PHC.

Proses pendidikan profesi kesehatan terkadang menjadi “menara gading” karena dikelola tanpa berorientasi kepada sistem pelayanan (konsep PHC). Calon profesional kesehatan dididik di rumah sakit yang fungsinya didominasi aktivitas kuratif, menjadikannya ahli memperbaiki atau mengobati organ tertentu, tapi tidak mengobati penderitaan manusia secara utuh. Hasilnya, profesional kesehatan (dokter) yang mind set-nya kuratif. Konsep PHC pada dasarnya adalah pendekatan atau strategi untuk membangun sistem kesehatan nasional yang memayungi seluruh upaya kesehatan. 

PHC merupakan sistem pelayanan kesehatan yang memiliki 22 karakteristik, yang terbagi dalam dua kelompok. Pertama, karakteristik dari sistem pelayanan.Kedua, karakteristik yang menjadi atribut yang melekat pada praktik dokter di strata pelayanan primer. Sistem pelayanan kesehatan yang memiliki sebagian besar dari 22 karakteristik ini dapat dikatakan sebagai sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pelayanan primer. Penguatan pelayanan kesehatan primer berkorelasi erat dengan peningkatan derajat kesehatan masyarakat. 

Kecacatan dan kematian secara dini dapat dicegah dan dideteksi. Peningkatan cakupan layanan primer dapat meningkatkan kepuasan pasien dan menurunkan biaya kesehatan karena angka rujukan menjadi lebih kecil. Studi di negara berkembang semacam Indonesia menunjukkan orientasi pada pelayanan spesialistis justru menimbulkan ketidakmerataan pelayanan kesehatan. Sementara negara berkembang yang sistem kesehatannya berorientasi pada pelayanan primer didapatkan pelayanan lebih merata, lebih muda diakses, dan lebih prorakyat miskin. 

Menindaklanjuti Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN),telah disahkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial( BPJS). Kedua undang-undang tersebut belum menjelaskan bagaimana pelaksanaan jaminan kesehatan sehingga harus diatur di dalam peraturan tersendiri. Karena itu, diperlukan regulasi mengenai pelaksanaan jaminan kesehatan terutama mengenai penyedia layanan kesehatan atau pemberi pelayanan kesehatan.( bersambung)  

ZAENAL ABIDIN 
Ketua Terpilih/Wakil Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia
Sumber : SINDO, 15 Mei 2012 

Wednesday, 18 April 2012

Road Show Dokter Kecil Award 2012 - Padang






 Pelaksanaan kegiatan Road Show Dokter Kecil Award 2012 di Kota Padang Sumatera Barat dilakukan pada tanggal 14 April 2012. Diikuti oleh seluruh dokter kecil Sesumatea Barat baik yang berasal dari rekomendasi dinas pendidikan provinsi sumatera barat, sekolah binaan unilever dan sekolah yang mendaftar secara terbuka melalui radio setempat.

Kegiatan RoadShow dilaksanakan di taman budaya kota padang, dimana secara bersamaan dilakukan pembukaan pekan MDG’s oleh Dinas Kesehatan Sumatera Barat. PB IDI dalam kegiatan ini diwakili oleh Ketua Panas HBDI 2012 Dr Aldrin Nelwan Sp.Ak  dan Tim Dokter Kecil Award 2012 Dr Triana Darmayanti Sp.A dan Dr Rosita Rivai. 




Acara diawali dengan Pembukaan  oleh MC Dr. Fuji Andriani kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari beberapa pihak :

- Sambutan oleh ketua panitia
- Sambutan oleh ketua IDI wilayah Sumbar
- Sambutan oleh Pihak Unilever
- Kata sambutan oleh Ketua PB IDI

Kemudian acara dilanjutkan dengan lomba –lomba yaitu :
·         lomba Puzzle Gizi
·         lomba Menggambar
·         lomba P3K

Ditengah –tengah acara, sebelum pengumuman diselingi dengan beberapa penampilan berbakat dari beberapa siswa kelas 1 – 2 dan ada pembacaaan dongeng mengenai “ Jika Aku menjadi Dokter”.  Sebelum pemgumuman Lomba juga diadakan Talkshow Pola Hidup Sehat  dan Gerakan 21 Hari dengan Narasumber  Ketua IDI Wilayah Sumbar dan Kepala Dinas Kesehatan Provins Sumbar dan Pihka Unilever yang dipandu langsung  oleh  MC.

Acara diakhiri dengan pengumumam lomba dan 10 Dokter Kecil Terbaik tingkat provinsi Sumatera Barat. Kemudian diumumkan  3 terbaik yang akan mengikuti pembinaan dari IDI wilayah dan kemudian diseleksi  kembali untuk mendapatkan yang terbaik yang akan dikirim mengikuti karantinda dan grandfinal juli nanti di jakarta.

Wednesday, 4 April 2012

Peluncuran Program Dokter Kecil Award 2012

Sebagai awal kegiatan dan sosialisasi program Dokter Kecil Award 2012 kepada publik maka pada tanggal  26 Maret  2012 di Gedung Balai Kartini Ruang Mawar Jl Jendral Gatot Subroto Kav 37 Jakarta, dilakukan Peluncuran  Program Dokter  Kecil Award  2012 yang disertai  dengan penandatanganan komitmen bersama antara Kementrian Kesehatan RI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai dua lembaga Pemerintah yang aktif membina UKS dan Dokter Kecil di sekolah, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia selaku organisasi profesi yang berwenang dalam penyelenggaraan Dokter Kecil Award 2012 dan PT Unilever Indonesia Tbk sebagai pihak swasta yang ikut berperan dalam memperkaya materi Dokter Kecil dengan pembekalan materi gerakan 21 hari (G21H),  untuk terus menggalakkan PHBS disekolah melalui pemberdayaan UKS dan Dokter Kecil.

Kegiatan ini dihadiri lebih kurang 200 undangan dengan menghadirkan 100 dokter kecil binaan Unilever, wartawan dari media cetak dan elektronik dan undangan khusus lainnya. Acara yang di pandu oleh Becky Tumewu diawali dengan persembahan gerak dan lagu “ Pasukan Anti Kuman “ SDN Pondok Labu 15 dan pembacaan salah satu isi buku “ Sekantong Cerita Sehat karangan Ibu Menteri Kesehatan, Dr Endang Rahayu Sedyaningsih oleh salah seorang Dokter Kecil 

Acara kemudian dilanjutkan dengan Sambutan Ketua Umum PB IDI Dr Prijo Sidipratomo Sp.Rad (K), dilanjutkan dengan Sambutan dari Pihak PT Unilever dan diakhiri oleh sambutan dari Kemenkes RI  Dr Kirana Sp.A mewakili Menteri Kesehatan RI. Rangkaian acara  dilanjutkan dengan Talkshow yang dipandu langsung oleh MC


Peluncuran Program Dokter Kecil Award 2012 dilakukan dengan ceremonial penandatangan komitmen bersama oleh kementerian kesehatan, PB IDI dan PT Unilever, dam perwakilan dari kemendiknas berhalangan sehingga akan ditanda tangan kemudian.

Selanjutnya dilakukan penyerahan simbol dukungan dari pihak – pihak tersebut kepada 3 orang dokter kecil yaitu :
-       Penyerahan buku  : Sekantong surat sehat dan cerita sehat oleh kemenkes RI
-       Penyerahan kit dokter kecil oleh PT Unilever
     Penyerahan Buku Panduan Dokter Kecil dan Jas Dokter Kecil oleh PB IDI   
     Ditutup dengan Acara Foto bersama dan wawancara oleh Pers 





-