Wednesday, 4 September 2019

Dokter Umum sebagai Garda terdepan dalam memberikan Layanan Emergensi


Jakarta, 31 Agustus 2019, bertempat di JS Luwansa Hotel, Jakarta, Jl. H. R. Rasuna Said Kav. C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan,Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) Bersama Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) menyelenggarakan kegiatan Seminar Nasional dan Clinical Mentoring dengan Tema “PERAN GELS DALAM UPAYA PENINGKATAN MUTU PELAYANAN KEGAWATDARURATAN MEDIS”.

Diikuti 350 peserta Dokter Umum dengan tujuan meningkatkan pengetahuan para sejawat dokter dalam melakukan penanganan kasus kegawatdaruratan baik untuk layanan di Pra RS maupun didalam RS. 

Seminar dan Clinical Mentorinf ini didasari bahwa keadaan gawat darurat dapat terjadi pada setiap orang dan pada saat yang tak terduga dimana saja. Pelayanan kegawatdaruratan meliputi pelayanan kegawatdaruratan pada bencana dan pelayanan kegawatdaruratan sehari-hari. Keadaan gawat darurat yang terjadi dapat mengakibatkan seseorang atau sekelompok orang memerlukan tindakan yang cepat, tepat dan akurat. Pertolongan pertama pada kondisi gawat darurat akan sangat menentukan keadaan korban pada tahap selanjutnya.  Dalam keadaan sehari-hari sangat mungkin kita menemukan kasus gawat darurat baik akibat kecelakaan, keadaan stroke atau mungkin pendarahan dan renjatan. Tindakan awal sangat menentukan kelangsungan hidup dan atau kecacatan yang mungkin terjadi setelah kejadian. 

Aturan terkait pertolongan keadaan gawat darurat telah diatur dalam pasal 51 UU No. 29/2004, Tentang Praktik Kedokteran, seorang dokter wajib melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2018, Tentang Pelayanan Kegawatdaruratan terkait kriteria kegawatdaruratan dan pelayanan kegawatdaruratan. Pada Pasal 11, Permenkes tersebut, disebutkan sumber daya manusia dalam pertolongan kegawatdaruratan meliputi Dokter, Dokter Gigi, perawat dan/atau tenaga kesehatan lain serta tenaga non-kesehatan. Penanganan kegawatdaruratan dilaksanakan oleh tenaga kesehatan hal ini sebagaimana diatur dalam dalam pasal 50 UU No.23/1992 tentang Kesehatan yang merumuskan bahwa “tenaga kesehatan bertugas menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan sesuai dengan bidang keahlian dan atau kewenangan tenaga kesehatan yang bersangkutan”. Kewenangan menyangkut pelayanan gawat darurat pada fase di rumah sakit, dimana pada dasarnya setiap dokter memiliki kewenangan untuk melakukan berbagai tindakan medik termasuk tindakan spesifik dalam keadaan gawat darurat. Dalam hal pertolongan tersebut dilakukan oleh tenaga kesehatan maka yang bersangkutan harus menerapkan standar profesi sesuai dengan situasi gawat darurat saat itu.

Terkait hal ini, perlu peningkatan kemampuan penanganan tindakan gawat darurat terhadap tenaga medis. Untuk itu seminar sehari terkait GELS (General Emergency Life Support), diharapkan akan memberikan penyegaran kepada profesional medis khususnya dokter umum yang mempunyai tanggung jawab terhadap layanan kegawatdaruratan. 

Acara yang dibuka langsung oleh Ketua Umum PB IDI Dr Daeng Moh Faqih SH.MH menyatakan “PB IDI akan mensupport kegiatan-kegiatan seperti ini dalam bentuk kebijakan agar pelayanan kegawatdaruratan di Indonesia menjadi lebih baik dan maju dengan melibatkan semua Perhimpunan yang terkait Emergensi terutama untuk PDUI dan PDEI. Hal ini juga perlu dikomunikasikan dengan Konsil Kedokteran sehingga paket Modul Emergensi harus mengacu pada GELS yang menjadi kompetensi dasar pada dokter umum

Prof DR DR Idrus Paturusi Sp.OT(K) pada salah satu Keynote Speech sebagai Ketua Dewan Pembina KREKI “Pembentukan SAFE COMMUNITY yang sudah dideklarasikan di Makassar pada tahun 2000 harus dilanjutkan, dimana kita ingin bahwa dimanapun dan kapan kita akan selalu merasa aman dari hal-hal yang terkait kegawatdaruratan dan melibatkan semua unsur masyarakat dari unsur terkecil sampai ke urusan pelayanan yang dapat diberikan oleh Negara” 
       
Pada acara pembukaan dilakukan juga lauching aplikasi KREKI dengan tujuan untuk memberikan layanan kegawatdaruratan kepada masyarakat secepat layanan Online yang saat ini ada dan  juga merupakan tempat berkumpul para relawan kesehatan untuk dapat terlibat langsung dalam memberikan layanan dan juga membangun konektivitas dengan jaringan fasilitas kesehatan yang ada. 

Seminar kemudian dilanjutkan dengan membahas 6 Topik : 
  •  Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Kardiovaskuler oleh Dr Hadiki Habib, Sp.PD
  • Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Serebrovaskuler oleh Dr Mursyid Bustamii, Sp.S(K), KIC, MARS
  • Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Muskuloskeletal oleh Dr Muhammad Sakti Sp.OT
  •  Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Akut Abdomen oleh Dr Adianto, Sp.B-KBD
  •  Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Kehamilan & Post-partum Dr Ulul Albab, Sp.OG
  •  Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Anak oleh Dr Antonius H Pudjiadi, Sp.A (K)
  • Dilanjutkan dengan kegiatan Clinical Mentoring untuk membahas Pelaksanaan “Code Blue” di RS dengan Fasilitator Dr Wisnu Pramudhito, Sp.B dan Clinial Mentoring “Airway Management”yang dibawakan oleh Dr Arum Ernanti M, Sp.An.
  • Kegiatan berakhir pada pukul 17.30 dan semua peserta mendapatkan sertifikat dengan nilai 10 SKP dan harapan beberapa peserta bahwa kegiatan-kegiatan seperti ini harus sering dilakukan terutama Materi Kegawatdaruratan yang sebenarnya adalah Performa Dokter Umum sebagai pemberi layanan terdepan di Masyarakat. 

Wednesday, 14 August 2019

BEDAH BUKU 'MERAWAT BANGSA"


Benarkah mimpi para Dokter nasionalis telah meredup ?
Ataukah saat ini dokter indonesia hanya sebatas subordinat dalam kancah kesehatan global sebagaimana di masa kolonial ?
Pertanyaan - pertanyaan seperti ini muncul ketika dihadapkan dengan tilikan retrospektif pergerakan para Dokter indonesia.
Tak sedikit dari deretan nama pahlawan nasional yang lahir dari rahim pendidikan dokter profesional. Mereka adalah insan kesehatan yang mewarnai perjuangan bidang pendidikan kesehatan, kedokteran hingga politik. 
Buku yang berjudul "Merawat Bangsa : Sejarah Pergerakan Para Dokter lndonesia" karya Prof, Hans Pols ini dapat menguatkan & memberikan jawaban atas referensi sejarah yang jumlahnya cukup terbatas.
Prof. Hans Pols mendokumentasikan secara menyeluruh dan cermat peran para dokter-dokter lndonesia dengan mengabadikannya dalam buku ini. Tentu saja melalui buku ini juga masyarakat dan insan kesehatan khususnya dapat mengetahui bagaimana nilai-nilai luhur insan kesehatan masa lampau sangat dijunjung tinggi melalui idealisme-idealismenya.
Sebagai penyegaran historik bagi kaum intelektual sekaligus sebagai upaya diseminasi wawasan serta meningkatkan semangat kebangsaan khususnya bagi insan kesehatan, PB IDI melakukan Bedah Buku bersama Penulisnya langsung Prof. Hans Pols dan beberapa Narasumber :
1. Prof. Dr. Syamsuhidayat,Sp.B
2. Dr. Doddy P Partomihardjo,Sp,M dan
3. DR. Rusdhy Hoesein, M.Hum
Kegiatan berlangsung disekretariat PB IDI, Rabu 14 Agustus 2019 pukul 10:00 - 12:00 WIB.
Dihadiri segenap Pengurus PB lDI, Perwakilan lDl Wilayah, Perwakilan IDI Cabang seJabodetabek, Perwakilan Perhimpunan,
Perwakilan Dekan Fakultas Kedokteran di Jabodetabek, Perwakilan AIPKI, FIAKSI, ISMKI, PKFI, ASKLIN dan Perwakilan ADINKES











Wednesday, 17 July 2019

Monitoring dan Evaluasi TBC Nasional Dompet Dhuafa


Indonesia merupakan negara dengan beban TBC tertinggi nomor 3 (tiga) di dunia setelah India dan Cina. Meski sudah lebih dari 130 tahun upaya penyembuhan TBC dilakukan, namun hingga saat ini dunia belum dapat terbebas dari penyebaran penyakit ini. Laporan Global TB yang dikeluarkan WHO pada tahun 2018 menyebutan, di seluruh dunia, TB adalah salah satu dari 10 penyebab utama kematian dari infeksius tunggal (di atas HIV/AIDS). Jutaan orang terus mengalami kesakitan karena TB setiap tahunnya. Pada 2017, TB menyebabkan sekitar 1,3 juta kematian di antara orang HIV-negatif dan ada 300.000 kematian tambahan dari TB di antara orang HIV-positif.

Data terakhir menunjukkan bahwa setiap tahunnya masih ada 10 juta pasien TBC baru ditemukan. Sayangnya masih sepertiga atau sekitar 3 jutaan dari mereka tak tersentuh pelayanan kesembuhan. Artinya, yang tak terjangkau tak hanya menyebabkan penderitaan bagi dirinya sendiri namun lebih dari itu akan menjadi sumber penularan baru yang akan terus meningkat jumlah penderita TB.

Sementara Indonesia hingga saat ini justru mengalami peningkatan penderita TBC baru, dan beban tambahan koinfeksi TBC, yaitu TB-HIV dan TB-RO yang angkanya juga naik. Saat ini Indonesia merupakan 1 dari 3 negara dengan beban TBC tertinggi, bersama india dan china. Pada tahun 2017 TBC merupakan penyebab kematian tertinggi penyakit infeksi di Indonesia Laporan Kementerian Kesehatan menyebutkan total insiden TBC di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 842.000 orang, dengan rata – rata 319/100.000 penduduk. Total kasus TBC yang tercatat saat ini mencapai 446.732 orang atau sebanyak 53%, sehingga masih ada sekitar 395.268 atau 47% yang tidak atau belum tercatat. Diantara total jumlah insiden TBC tersebut diantaranya merupakan estimasi insiden TBC-MDR atau Resisten Obat sebanyak 23.000, dan insiden TBC dengan HIV sebanyak 36.000.

Sebagai NGO kesehatan, LKC Dompet Dhuafa sangat berkeinginan mendorong terwujudnya peran serta dan pemberdayaan masyarakat dalam program TB nasional. Program eliminasi TB, menuju Indonesia Bebas TBC pada 2030 perlu diperkuat kolaborasi di semua tingkatan dan kalangan. Program TB Care yang sudah dijalankan sejak tahun 2004, sampai hari ini masih terus berkembang dan LKC dipercaya sebagai mitra lembaga lain dalam hal pelaksanaan TB di beberapa wilayah kabupaten di Indonesia. 

Sejalan dengan semangat untuk terus menguatkan peran lembaga dalam program TB nasional dan terus meningkatkan keprcayaan mitra terhadap LKC Dompet Dhuafa, maka dipandang perlu menyelaraskan kembali visi dan misi program TB nasional yang sudah berjalan, terutama kepada para pelaksana program dimasing-masing wilayah sub-sub penerima (SSR/Sub-Sub Recepient) program TB Care. Berbagai kendala dilapangan kerap dijumpai oleh SDM pelaksana, namun karena terbatasnya akan akses dan informasi kelembagaan sehingga persoalan-persoalan menguap begitu saja. 

Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah melakuan evaluasi kinerja dan pencapaian Program TB  DompetDhuafa dan juga mendiskusikan strategi bersama atas berbagai kendala pelaksanaan manajemen maupun teknis lapangan yang dialami pelaksana program TB Care LKC.

Kegiatan ini diilaksanakan pada hari  Rabu tanggal  10 Juli 2019 bertempat di Islamic Center Bekasi – Jawa Barat dan dihadiri oleh Divisi KesehatanDDF, Direktur LKC Jateng, LKC Jabar, LKC Banten, Tim SSR Kab. Magelang, Kab. Bangkalan dan Kab. Sumenepdibawah PR Aisyiyah, Kepala Region 2 dibawah SR Khusus LKNU, Tim SSR Kab. Bekasi, Kota Bekasi, Kab. Bogor, Kota Bogor, Kab. Bandung, Tim SSR Kota Tangerang Selatan dibawah Region 5 SR LKNU.

Output dari kegiatan ini adanya laporan perkembangan pelaksanaan program TB Care diseluruh Indonesia, meningkatkan komunikasi dan koordinasi  antar pelaksana program TB Care seluruh Indonesia, memberikan dan mengenalkan pelaksana program dengan lembaga dan value DD yang akan menjiwai pelaksanaan program sehingga berbeda dengan yang lain dan tentunya diharapka adanya solusi manajemen atas berbagai persoalan yang dihadapi oleh pelaksanan program dilapangan. 

Bekasi, 10 Juli 2019 






Penyerahan secara Simbolis Klinik Gerai Sehat Bandung 1 kepada Plt Direktur LKC Jabar