Thursday, 14 May 2020

Relawan Covid 19

MARHABAN YA RAMADHAN 



Ramadhan sudah di depan pintu, mengetuk pelan dengan irama berbeda dari biasanya. Di tahun-tahun berlalu, Ramadhan datang dengan dentuman keras; hingar bingar sambutan yang kadang dibumbui kontroversi penetapan awal permulaan. Kali ini, ia datang lebih pelan; nyaris berbisik. Ia datang di tengah duka banyak orang, ia datang di tengah larangan beribadah di masjid, ia datang di tengah perenungan-perenungan pribadi masing-masing kita.

Setidaknya itu hal yang kami rasakan pada kunjungan kami untuk kesekian kalinya ke RS Darurat Wisma Atlet kemarin. Kunjungan kali ini adalah untuk bertemu dengan  tim relawan  dokter yang akan bertugas disana baik sebagai dokter pelaksana maupun sebagai tim dokter  manajemen yang mengelola dan membangun sistem yang disana. Merekalah dalam hal ini dr Tati Bangsa Amalia Makmur Haswan. Tim Support ini  yang jatuh bangun di lapangan, membangun system dan mengatur alur masuk dan keluar pasien dan juga tenaga medis dari IDI dibawah supervisi Dr Dyah Agustina Waluyo. Kami  datang berempat  Dr Mohammed Adib Khumaidi, Ketua PP PDEI yang sekaligus adalah wakil ketua PB IDI, dan Dr Corona  dari MDMC dan saat ini sedang bertugas sebagai Staf khusus Gugus Tugas di BNPB serta  Dr Asturi Putri PP PDEI. Melihat semangat para dokter-dokter ini memang sepertinya melihat perwujudan kami di 15 – 20  tahun yang lalu dimana kami – kami  dokter brigade siaga bencana kemenkes,  komite bencana PB IDI dan bahkan terakhir kami masih bertugas sebagai tim kemanusiaan Rohingya 2017 yang lalu. 

Selain tim dokter gelombang V yang berjumlah 36 orang  yang akan masuk pembekalan dan penugasan, juga dilakukan pelepasan tim 1 yang telah bertugas selama 14 hari dan juga telah  menyelesaikan  masa 14 hari isolasi. Berita gembiranya, tak satupun dari tim medis yang telah bertugas ini yang positif mengidap Covid19. Hal ini sangat berarti, karena membuktikan bahwa prosedur yang telah disusun dapat menghindarkan mereka dari infeksi. Di tengah terus bertambahnya jumlah pasien, kesehatan tim medis adalah kegembiraan terbesar bagi kami. Sebagai Informasi saat ini pasien di Wisma Atlet sdh berjumlah 800 orang lebih, 140 orang pasien telah dijadwalkan untuk masuk ke fasilitas ini dalam dua hari ini, dan 400 orang pasien tambahan di tanggal 27 April nanti. Sehingga penambaham jumlah relawan dokter juga bertambah mulai dari 10 orang pertim, meningkat menjadi 15 dan digelombang ini tim dokter perangkatan 36 orang. 

Ada rasa haru dan bangga yang membuncah di dada melihat adik-adik dokter yang memilih menjadi relawan ini. Tentu jamak kita ketahui, menjadi tim medis di fasilitas kesehatan yang menangani Covid-19 adalah sama dengan bertempur dalam peperangan. Resiko besar mereka rela tanggung demi memberikan sumbangsih bagi bangsa dan masyarakat. Dan ada satu dokter yang berasal dari Unhas yang merupakan anak Profesor dan kebetulan adalah Pembimbing Akademik saya sewaktu masih kuliah dulu. Beliau sangat bersemangat untuk membantu sang anak untuk dapat menjadi dokter relawan di Wisma Atlit, mensupport jiwa kemanusiaan sang anak untuk dapat memberikan yang terbaik  bagi negaranya. Hal ini juga terlihat dari semangat para dokter yg sdh terlibat, hampir semua berminat dan berniat terlibat  kembali menjadi relawan pada angkatan-angkatan selanjutnya.  Melihat nyala semangat di mata mereka, kembali saya merasa sangat bangga  dan terharu tentunga telah menjadi bagian dari komunitas medis Indonesia ditengah isu-isu  yang saat ini berkembang yang agak menyudutkan profesi kami.

Tanpa mengesampingkan peran semua pihak yang bahu membahu dalam pengelolaan Covid-19 di Indonesia, harus diakui bahwa tenaga kesehatan menjadi tumpuan dari banyak orang. Dalam candaan suami saya, pandemi Covid-19 ini membuktikan bahwa “harga” seorang dokter jauh lebih mahal dari Ronaldo dan Messi digabungkan. Tapi tentu ini semua sama sekali bukan soal berapa insentif yang didapatkan oleh seorang tenaga medis. Ini adalah soal kerelaan berkorban bagi kemaslahatan bangsa. Sebagaimana pesan Mas Adib pada saat pembekalan kemarin, insentif yang didapatkan hanya bonus semata. Yang terutama adalah pembelajaran yang akan didapatkan oleh para dokter muda ini; koordinasi dengan orang-orang di luar komunitas medis, manajemen SDM, solidaritas dalam tim, kemampuan mengambil inisiatif, dan juga kemampuan untuk membangun jaringan. Mereka adalah para penerus dari cita-cita awal dunia kedokteran Indonesia; membangun bangsa yang merdeka!

Ya, Ramadhan ini akan mereka lewati dalam pertempuran melawan Covid-19. Ramadhan kali ini menjadi bulan ibadah yang seluas-luasnya bagi mereka; merawat pasien yang sakit, menolong orang-orang yang membutuhkan, menjadi kegembiraan bagi mereka yang tengah berduka.

Doa kami, semoga Tuhan melindungi dan melimpahkan berkah bagi mereka dalam menjalankan tugasnya. Semoga Tuhan memberi kesehatan dan kegembiraan bagi kita semua. Semoga Ramadhan kali ini menjadi salah satu Ramadhan yang terbaik dalam hidup kita.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan…. Semoga kemenangan Ramdhan tahun ini mengiiringi kemenangan kita melawan pandemi ini 

#bersatumelawancorona 
#bersatumelawancovid19
#doclife
#relawandokterIDI

Sunday, 12 April 2020

Relawan Covid 19 (2)



Kemarin sore (8/4/2020) kami kembali mengunjungi RS Darurat Wisma Atlit, kompleks yang kini didedikasikan nyaris sepenuhnya untuk membantu negeri melewati salah satu masa terberatnya. Selain untuk melihat perkembangan RS ini bersama Ketua Terpilih PB IDI Dr Mohammed Adib Khumaidi kami memberikan sedikit arahan dan semangat kepada Rombongan Tim 3 Relawan Dokter yang akan memulai tugasnya selama 1 bulan. 
Ya, negeri ini memang sedang berjuang melewati badai bernama wabah Covid-19. Negeri ini sedang melangkah tertatih mengatasi segala kerusakan akibat sapuan badai Covid-19. Di segala sektor; ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, dan bahkan hukum. Dan yang paling rusak parah tentu saja sektor kesehatan. Yang lebih menakutkan adalah fakta bahwa badai ini masih belum berlalu. Bahkan, mencapai puncaknya saja belum.
Saya dan orang-orang di sekitar saya tentu juga tak luput dari ganasnya badai ini. Satu per satu, guru-guru, rekan sejawat, dan juga tetangga divonis positif Covid-19. Beberapa bahkan kemudian gugur menjadi syahid dalam perjuangan melawannya. 
Kunjungan ke wisma atlit ini juga adalah berbagi kebahagiaan dengan donasi yang diberikan beberapa donatur, mengunjugi sejawat2, kakak-kakak dan adik-adik yang bekerja dari segi mananajemen utk memastikan sistem di RS ini berjalan dan terkoneksi dengan sistem yang ada diluar sana agar dapat memaksimalkan pelayanan utk melayani semua pasien yang masuk ke fasilitas ini. Bersama Dr Adib, Dr Tati Bangsa Amalia Makmur Haswan dan Dr Yanti berbagi kabar dan tawa untuk memompa endorphin agar tetap bahagia dan berbagi kebahagian ditengah badai ini.
Sungguh, badai ini memutarbalikkan segala hal yang selama ini saya anggap sebagai kewajaran hidup. Berkantor tak lagi dimungkinkan. Berkumpul bersama keluarga dan para sahabat di Keluarga Rahayu tak lagi bisa dilakukan sebagaimana dahulu. Anak-anak harus belajar di rumah dengan pengawasan orang tua sendiri. Dahulu, kami biasa berenang dan berolahraga di tempat publik, namun saat ini hal itu tak bisa lagi. Dan tentu saja, saya juga menyaksikan betapa orang-orang kecil yang menjalani hidup dari hari ke hari, mendadak jadi kehilangan sumber penghidupannya.
Badai ini juga memaksa saya mendefinisikan kembali iman saya. Bagaimana tidak, Tuhan telah mengosongkan bangunan-bangunan yang selama ini dianggap sebagai rumah-Nya. Apakah Tuhan telah mengusir kita agar tak lagi masuk rumah-Nya? Bisa jadi Tuhan telah bosan akan ritus-ritus sosial yang mengatasnamakan-Nya, padahal adalah untuk memuaskan ego kita sendiri. Ritual shalat Jumat yang menjadi kewajiban setiap minggu, saat ini telah ditiadakan. Tarawih berjamaah, buka puasa bersama, dan bahkan Shalat Idul Fitri juga mungkin tak bisa dilakukan lagi. Kita dipaksa untuk beragama sendirian, menemui-Nya dalam kesendirian dan kesunyian diri saja.
Lalu saya teringat salah satu hadits qudsi; Tuhan ada di sisi orang-orang sakit, orang-orang lapar, dan orang-orang haus. Ya, mungkin Tuhan sedang menyuruh kita meninggalkan keriuhan ritus sosial yang selama ini diagungkan. Tuhan ingin kita bersama-sama berpaling pada hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan; rawatlah yang sakit, beri makan pada yang lapar, beri pakaian pada yang butuh, bagi tawa untuk yang sedih, sediakan hati untuk yang sendiri.
Juga, beri istirahat pada jiwa kita sendiri, agar bisa sejenak berduaan dengan Tuhan-Nya.
Selamat berjuang para sejawat, Insya Allah terbaik buat semuanya 🙏🙏🙏🙏


Friday, 27 March 2020

Relawan Kesehatan Covid-19



Bersama Wakil Ketua PB IDI/Ketua PP PDEI Mohammed Adib Khumaidi and Dr Seno Purnomo  memberikan semangat dan support kepada Tim Relawan Angkatan 1 yang mulai hari ini bertugas di Wisma Atlet.

Deja Vu berada disituasi ini dimana 15 tahun yang lalu ketika masih muda (skrg juga masih muda semangatnya) menjadi dokter BSB yang melayani masyarakat didaetah bencana bersama Asturi Putri Ervin Amouzegar Iin Inayah Monica Primasari Ika Sartika Mauliate Gultom  Alia Yenni Risniati Lydia A. Hutabarat Andrew Rens Salendu dan beberapa teman BSB lainnya. 

Bencana ini jauh berbeda dengan bencana-bencana yang sudah pernah kami turun dan kelola semaksimal mungkin. Bencana ini bencana non alam dimana semua orang bukan hanya dokter tapi juga pemerintah masih gagap menghadapi bencana pandemi yang juga melanda dunia. 

Salut kepada para sejawat yang masih muda, masih bersemangat dan bersedia turun sebagai barisan pertama relawan IDI yang tentunya masih banyak keterbatasan tapi dengan membangun sistem bersama-sama. Insya Allah pelayanan yang diberikan akan lebih maksimal  ditengah keterbatasan yang ada.

Wisma atlet ini sedianya akan menampung 2200 pasien dengan kriteria tertentu dan akan dilayani oleh dokter-dokter dari IDI dan TNI.

Selamat bertugas, Stay Safe and Healthy 

Jakarta, 26 Maret 2020