Monday, 6 February 2012

IMUNISASI


PENTINGNYA IMUNISASI
UNTUK MENCEGAH  WABAH, SAKIT BERAT, CACAT DAN KEMATIAN BAYI- BALITA


Bagaimana cara mencegah  penyakit menular pada bayi dan balita ?
Pencegahan umum  : berikan ASI eksklusif , makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang , kebersihan badan, pakaian, mainan,  lingkungan serta penyediaan air bersih untuk makanan & minuman

Pencegahan spesifik  : imunisasi lengkap, karena dalam waktu 4 – 6  minggu setelah imunisasi akan timbul antibodi spesifik yang efektif mencegah penularan penyakit, sehingga tidak mudah tertular, tidak sakit berat, tidak menularkan pada bayi dan anak lain, sehingga tidak terjadi wabah dan tidak terjadi banyak kematian.
Benarkah imunisasi aman untuk bayi dan balita ?
Benar. Saat ini 194 negara terus menerus melakukan imunisasi untuk bayi dan balita. Institusi resmi yang meneliti dan mengawasi  vaksin di  negara tersebut, umumnya terdiri dari dokter ahli penyakit infeksi, imunologi, mikrobiologi, farmakologi, epidemiologi, biostatistika dll. Sampai saat ini tidak ada negara yang melarang imunisasi, justru semua negara berusaha meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90% (artinya lebih dari 90 % anak/bayi telah mendapat imunisasi) .
Benarkah di semua negara ada institusi resmi yang mengawasi program imunisasi ?
Benar. Contohnya di Indonesia terdapat banyak institusi yang mengawasi program imunisasi, antara lain Badan POM (pengawasan obat dan makanan), Litbangkes, Subdit Surveilans dan Epidemiologi Kemkes, Indonesia Technical Advisory Group for Immunization (ITAGI), Komnas / Komda Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, badan penelitian di Fakultas Kedokteran, Fakultas Kesehatan Masyarakat di beberapa universitas di Indonesia dll.
Institusi semacam ini yang mengawasi program imunisasi di negara masing-masing. Semua institusi dan badan tersebut menyatakan bahwa imunisasi aman, dan bermanfaat untuk mencegah penularan penyakit berbahaya.
Mengapa ada “ilmuwan” menyatakan bahwa imunisasi berbahaya ?
Tidak benar imunisasi berbahaya. “Ilmuwan”  yang sering dikutip di buku, tabloid, milis ternyata bukan ahli vaksin, melainkan ahli statistik, psikolog, homeopati, bakteriologi, sarjana hukum, wartawan, dan lain-lain  sehingga mereka tidak mengerti tentang vaksin. Sebagian besar mereka  bekerja pada era tahun 1950- 1960, sehingga sumber datanya sangat kuno. Padahal jenis dan teknologi pembuatan  vaksin telah mengalami kemajuan yang pesat dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, sehingga sangat berbeda dengan keadaan di tahun 1950 – 1960an.
Benarkah “ilmuwan” yang sering dikutip buku,  tabloid, milis, ternyata  bukan ahli vaksin ?
Benar, mereka semua bukan ahli vaksin.
Contoh : Dr Bernard Greenberg (biostatistika tahun 1950), DR. Bernard Rimland (Psikolog),  Dr. William Hay (kolumnis),  Dr. Richard Moskowitz (homeopatik), dr. Harris Coulter,  PhD (penulis buku homeopatik, kanker), Neil Z. Miller,  (psikolog, jurnalis), WB Clark (awal tahun 1950) , Bernice Eddy (Bakteriologis tahun 1954), Robert F. Kenedy Jr (sarjana hukum)  Dr. WB Clarke (ahli  kanker, 1950an), Dr. Bernard Greenberg (1957-1959).
Benarkah “penelitian”  Wakefield “ahli vaksin”, membuktikan  MMR menyebabkan autism ?
Tidak benar.  Wakefield bukan ahli vaksin, dia  dokter spesialis bedah. Penelitian Wakefield tahun 1998 hanya berdasarkan 18 sampel. Banyak penelitian lain oleh ahli vaksin di beberapa negara, menyimpulkan MMR tidak terbukti mengakibatkan autis. Setelah diaudit oleh tim ahli penelitian di Inggeris, terbukti bahwa Wakefield memalsukan data, sehingga kesimpulannya salah. Hal ini telah diumumkan di majalah resmi kedokteran Inggeris British Medical Journal Februari 2011.
Benarkah di semua vaksin terdapat zat-zat berbahaya yang dapat merusak otak ?
Tidak benar. Isu itu karena “ilmuwan” tersebut di atas  tidak mengerti isi vaksin, manfaat dan batas keamanan zat-zat di dalam vaksin.
Contoh : Merkuri yang berbahaya untuk kesehatan adalah METIL merkuri. Di dalam vaksin tidak ada metil merkuri, hanya ada ETIL merkuri yang tidak berbahaya, karena sifat etil merkuri sangat berbeda dari metil merkuri. Jumlah etil merkuri yang ada dalam zat timerosal yang masuk ke tubuh bayi melalui vaksin pun sangat sedikit sekitar 150 mcg/kgbb/6 bulan, atau  sekitar 6 mcg/ kgbb / minggu, sedangkan batas aman menurut WHO adalah jauh lebih banyak (159 mcg/ kgbb/ minggu). Oleh karena itu vaksin yang mengandung etil merkuri dosis sangat rendah dinyatakan aman oleh WHO dan badan-badan pengawasan lainnya.
Benarkah isu bahwa “semua zat kimia”  berbahaya bagi bayi ?
Tidak benar. Isu itu beredar karena penulis buku, tabloid, milis, tidak memenahami benar apa yang disebut zat kimia. Oksigen, air, nasi, buah, sayur, jahe, kunyit, lengkuas, semua tersusun dari zat-zat kimia.
Oksigen rumus kimianya O2, air H2O, garam NaCl. Buah dan sayur terdiri dari serat selulosa, fruktosa, vitamin, mineral, dll. Telur terdiri dari protein, asam amino, mineral.   Itu semua zat kimia, karena ada rumus kimianya, maka disebut biokimia. Jadi zat-zat kimia umumnya  justru sangat dibutuhkan untuk manusia,  asal bukan zat yang berbahaya atau dalam takaran yang aman.

Benarkah vaksin terbuat dari nanah, dibiakkan di janin anjing, babi,  manusia yang sengaja digugurkan?
Tidak benar. Isu itu bersumber dari “ilmuwan”  50 tahun lalu (tahun 1961-1962). Teknologi pembuatan vaksin berkembang sangat pesat dan sangat jauh berbeda dengan pembuatan vaksin tahun 1950an. Sekarang tidak ada vaksin yang terbuat dari nanah atau dibiakkan embrio anjing, babi atau manusia.
Benarkah vaksin mengandung lemak babi ?
Tidak benar. Pada proses penyemaian induk bibit  vaksin tertentu 15 – 20 tahun lalu,  ketika proses panen bibit vaksin tersebut  bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk melepaskan induk vaksin dari persemaiannya. Tetapi induk bibit vaksin tersebut kemudian dicuci dan dibersihkan total dengan cara ultrafilterisasi ratusan kali, sehingga pada vaksin yang diteteskan atau disuntikan pada bayi balita tidak mengandung tripsin babi. Hal ini dapat dibuktikan dengan pemeriksaan khusus. Atas dasar itu menurut Majelis Ulama Indonesia vaksin itu boleh dipakai, selama belum ada penggantinya. Contoh : vaksin meningokokus  haji diwajibkan oleh Saudi Arabia bagi semua jemaah haji untuk mencegah radang otak karena meningokokus.
Benarkah vaksin yang dipakai di Indonesia buatan Amerika ?
Tidak benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah  buatan PT Biofarma Bandung, pabrik vaksin yang telah berpengalaman selama 120 tahun. Proses penelitian dan pembuatannya mendapat pengawasan ketat dari ahli-ahli vaksin  WHO.  Vaksin-vaksin tersebut juga dieksport ke   120 negara lain, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam.
Benarkah program  imunisasi hanya di negara muslim dan miskin  agar menjadi bangsa yang lemah?
Tidak benar. Imunisasi saat ini dilakukan di 194 negara, termasuk negara-negara maju  dengan status sosial ekonomi tinggi, dan negara-negara non-muslim.   Kalau imunisasi bisa melemahkan bangsa, maka mereka juga akan lemah, karena mereka sampai sekarang  juga melakukan program imunisasi, bahkan  lebih dulu dengan jenis vaksin lebih banyak.  Kenyataanya : bangsa dengan cakupan imunisasi lebih tinggi, jumlah bayi/anak yang mendapat imunisasi lebih banyak justru lebih kuat. Jadi terbukti bahwa imunisasi justru memperkuat kekebalan terhadap penyakit infeksi, bukan melemahkan.
Benarkah isu di buku, tabloid dan milis bahwa di Amerika banyak kematian bayi  akibat vaksin ?
Tidak benar. Isu itu karena penulis tidak faham data Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) dari FDA (Food & Drug Agency, semacam Badan POM Indonesia) di Amerika tahun 1991-1994 mencatat 38.787 laporan  kejadian ikutan pasca imunisasi. Oleh penulis buku, tabloid atau milis  angka tersebut ditafsirkan sebagai angka kematian bayi 1 – 3 bulan.
Kalau memang benar angka kematian begitu tinggi tentu FDA AS akan heboh dan menghentikan vaksinasi. Faktanya Amerika tidak pernah meghentikan vaksinasi bahkan mempertahankan cakupan semua imunisasi di atas 90 %. Angka tersebut adalah semua keluhan effek samping vaksin seperti: nyeri, gatal, merah, bengkak di bekas suntikan, demam, pusing, muntah dan gejala lain. yang memang rutin harus dicatat kalau ada laporan masuk. Bukan angka kematian akibat vaksin. Di Indonesia gejala ikutan pasca imunisasi juga dipantau oleh suatu badan yang disebut Komnas KIPI (Komite Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)
Benarkah isu bahwa banyak bayi balita meninggal  pada imunisasi masal campak di Indonesia ?
Tidak benar. Setiap laporan kecurigaan adanya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) selalu dikaji oleh Komnas / Komda KIPI yang terdiri dari pakar-pakar penyakit infeksi, imunisasi, imunologi, dll. Setelah dianalisis dari keterangan keluarga, petugas kesehatan yang memberikan imunisasi, dokter yang merawat di rumah sakit, hasil pemeriksaan fisik, laboratorium, ternyata balita tersebut meninggal karena radang otak, bukan karena vaksin campak. Pada bulan itu ada beberapa balita yang tidak imunisasi campak juga menderita radang otak. Berarti kematian balita tersebut bukan karena imunisasi campak, tetapi karena radang otak.
Demam, bengkak, nyeri, kemerahan setelah imunisasi membuktikan bahwa vaksin berbahaya ?
Tidak berbahaya. Demam, nyeri, kemerahan, bengkak, gatal di bekas suntikan adalah reaksi wajar setelah vaksin masuk ke dalam tubuh. Seperti rasa pedas dan berkeringat setelah makan sambal adalah reaksi normal tubuh kita. Umumnya keluhan tersebut akan hilang dalam beberapa hari. Boleh diberi obat penurun panas, dikompres. Bila perlu bisa konsul ke petugas kesehatan yang telah memberikan imunisasi tersebut untuk mendapat pertolongan dan pengobatan.
Benarkah vaksin Program Imunisasi  di Indonesia juga dipakai oleh 36 negara Islam ?
Benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah  buatan PT Biofarma Bandung. Vaksin-vaksin tersebut dibeli dan dipakai oleh  120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam.
Benarkah  isu  di tabloid, milis, bahwa  program imunisasi gagal di banyak negara?
Tidak benar. Isu-isu tersebut bersumber dari data yang sangat kuno (50  – 150 tahun  lalu) hanya dari 1 – 2 negara saja, sehingga hasilnya sangat berbeda  dengan hasil penelitian terbaru, karena jenis vaksin dan cara pembuatannya  sangat berbeda.
Contoh :
-          Isu imunisasi cacar variola gagal,  berdasarkan data yang sangat kuno, di Inggeris tahun 1867 – 1880 dan Jepang tahun 1872-1892.  Fakta terbaru sangat berbeda, bahwa dengan imunisasi cacar di seluruh dunia sejak tahun 1980  dunia bebas cacar variola.
-          Isu imunisasi difteri gagal, berdasarkan data di Jerman tahun 1939. Fakta sampai sekarang  vaksin difteri dipakai di seluruh dunia dan mampu menurunkan kasus difteri  95 %.
-          Isu imunisasi pertusis gagal hanya dari data di Kansas dan Nova Scottia tahun 1986. Fakta sampai sekarang vaksin pertusis dipakai di seluruh dunia dan berhasil menurunkan kasus pertusis lebih dari 80 %
-          Isu imuniasi campak berbahaya hanya berdasar penelitian 1989-1991 pada anak miskin berkulit hitam di Meksiko, Haiti dan Afrika. Fakta sampai sekarang vaksin campak dipakai di seluruh dunia dan mampu menurunkan jumlah kasus campak 68 – 90 %.

Benarkah isu program imunisasi gagal, karena setelah diimunisasi bayi balita masih bisa tertular penyakit tersebut ?
Tidak benar program imunisasi gagal.  Perlindungan vaksin memang tidak 100 %. Bayi dan balita yang telah diimunisasi masih bisa tertular penyakit, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Sedangkan bayi  balita yang belum diimunisasi lengkap bila tertular penyakit tersebut bisa sakit berat, cacat atau meninggal.
Benarkah imunisasi  bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat dan kematian bayi dan balita?
Benar.  Badan penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa : dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara bermakna.  Oleh karena itu saat  ini program imunisasi dilakukan terus menerus di 194 negara, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.  Semua negara berusaha meningkatkan cakupan agar lebih dari 90 %. Di Indonesia, terjadi wabah polio 2005-2006 karena banyak bayi yang tidak diimunisasi polio, maka  menyebabkan 305 anak lumpuh permanen. Setelah digencarkan imunisasi polio, sampai saat ini tidak ada lagi kasus polio baru.
Mengapa di  Indonesia ada buku, tabloid, milis, yang menyebarkan isu bahwa vaksin berbahaya, tidak effektif, tidak dilakukan di negara maju ?
Karena publikasi itu ditulis dan disebarluaskan oleh orang-orang  yang tidak mengerti tentang vaksin dan imunisasi, hanya mengutip dari “ilmuwan” tahun 1950 -1960 yang ternyata bukan ahli vaksin, atau berdasarkan data 30 – 40 tahun lalu (tahun 1970 – 1980an). Beberapa publikasi  hanya berdasar 1 – 2 laporan kasus yang tidak diteliti lebih lanjut secara ilmiah, hanya berdasar dugaan.
Media tersebut sering mengutip “penelitian” Wakefield spesialis bedah, bukan ahli vaksin, yang penelitiannya dibantah oleh banyak tim peneliti lain, dan oleh majalah resmi kedokteran Inggeris British Medical Journal Februari 2011 “penelitian” Wakefield dinyatakan tidak benar, karena mengubah / memalsukan data.
Orangtua harus bersikap bagaimana terhadap isu-isu tersebut ?
Sebaiknya semua bayi dan balita di imunisasi secara lengkap. Saat ini 194 negara di seluruh dunia yakin bahwa imunisasi aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat dan kematian. Terbukti 194 negara tersebut terus menerus melaksanakan program imunisasi, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dengan cakupan umumnya lebih dari 85 %.
Badan penelitian di berbagai negara membuktikan kalau semakin banyak bayi balita tidak diimunisasi akan terjadi wabah, sakit berat, cacat atau mati, dan telah terbukti di Indonesia : wabah penyakit polio 2005-2006 (305 anak lumpuh permanen), wabah campak 2009 – 2010 (5818 anak dirawat di rumah sakit, meninggal 16), wabah difteri 2010-2011 (816 anak di rawat di rumah sakit, 56 meninggal).
Bisakah  ASI, gizi, suplemen herbal  menggantikan imunisasi ?
Tidak ada satupun badan penelitian di dunia yang menyatakan ASI, gizi, suplemen herba; bisa menggantikan imunisasi, karena kekebalan yang dibentuk sangat berbeda. ASI, gizi, suplemen herbal, kebersihan akan memperkuat pertahanan tubuh secara umum, namun  tidak membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu yang berbahaya. Kalau  jumlah kuman banyak dan ganas, perlindungan umum tidak mampu melindungi bayi, sehingga masih bisa sakit berat, cacat atau mati.
Oleh karena itu di negara-negara dengan gizi baik dan lingkungan bersih tetap melakukan program imunisasi dengan cakupan lebih dari 85 % bayi balita.
Vaksin akan merangsang pembentukan kekebalan yang spesifik (disebut antibodi) terhadap kuman, virus atau racun kuman tertentu. Setelah antibodi terbentuk akan bekerja lebih cepat, effektif dan effisien untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya.
Bolehkah selain diberikan imunisasi, ditambah dengan suplemen gizi, herbal  dll. ?
Boleh. Selain diberi imunisasi, bayi tetap diberi ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang, kebersihan badan, makanan, minuman, pakaian, mainan,  dan lingkungan. Suplemen diberikan sesuai kebutuhan individual yang bervariasi. Selain itu bayi harus mendapat perhatian dan kasih sayang dan stimulasi bermain untuk mengembangkan kecerdasan, kreatifitas dan perilaku yang baik.
Benarkah bayi dan balita yang tidak diimunisasi lengkap rawan tertular penyakit berbahaya ? 
Benar. Banyak penelitian imunologi dan epidemiologi di berbagai negara membuktikan bahwa bayi balita yang tidak diimunisasi lengkap tidak mempunyai kekebalan spesifik terhadap penyakit-penyakit menular berbahaya.  Mereka mudah tertular penyakit tersebut, akan menderita sakit berat, menularkan ke anak-anak lain, menyebar luas, terjadi wabah, menyebabkan banyak kematian dan cacat.
Benarkah wabah akan terjadi bila banyak bayi dan balita tidak diimunisasi  ?
 Benar. Itu sudah terbukti di beberapa negara Asia, Afrika dan di Indonesia.
Contoh : wabah polio 2005-2006 di Sukabumi karena banyak bayi balita tidak diimunisasi polio, dalam beberapa bulan  virus polio menyebar cepat ke Banten, Lampung, Madura, sampai Aceh, menyebabkan 305 anak lumpuh permanen.
Wabah campak di Jawa Tengah dan Jawa Barat  2009-2011 mengakibatkan  5818 anak di rawat di rumah sakit, 16 anak  meninggal, terutama yang tidak diimunisasi campak.
Wabah difteri dari Jawa Timur 2009 – 2011 menyebar ke Kalimantan Timur, Selatan, Tengah, Barat, DKI Jakarta, menyebabkan 816 anak harus di rawat di rumah sakit, 54 meninggal, terutama yang imunisasinya belum lengkap atau belum pernah imunisasi DPT.
Benarkah imunisasi rutin  dan imunisasi tambahan  serentak dibeberapa propinsi dapat menghentikan wabah ?
Benar.  Wabah polio di beberapa propinsi tahun 2005-2006  telah berhasil dihentikan dengan imunisasi polio rutin dan tambahan  secara serentak pada semua bayi/balita  melalui beberapa kali Pekan Imunisasi Polio Nasional.
 Wabah campak di beberapa propinsi tahun 2009- 2011 telah berhasil dihentikan dengan imunisasi campak rutin dan tambahan pada semua bayi balita 9 – 59 bulan di semua propinsi secara terus –menerus.
Wabah difteri di beberapa propinsi 2009 – 2011 telah berhasil dihentikan dengan imunisasi DPT rutin dan tambahan pada semua bayi balita  di beberapa propinsi.

Mari kita  cegah penularan penyakit, wabah, sakit berat, cacat
dan kematian bayi dan balita dengan imunisasi dasar lengkap,
untuk membangun generasi muda Indonesia yang sehat dan sejahtera

Sumber : Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)

Thursday, 19 January 2012

BANJIR TAHUNAN JAKARTA


Banjir di Jakarta bukan hal yang baru terjadi. Hal ini bahkan sudah menjadi agenda tahunan bagi warga Jakarta. Begitu pun dengan siklus banjir  5 tahunan yang mana akan terjadi di 2012 ini. Sekarang ini, dengan melihat gelagat cuaca dan ramalan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tampaknya siklus banjir kali ini sudah tidak dapat dihindari lagi. Oleh karena itu, kita sebaiknya bersiap dan berupaya meminimalisir dampak yang akan terjadi akibat banjir yang akan datang ini.

Dampak yang paling sering terjadi akibat banjir - selain dari segi materi seperti kerusakan ataupun kehilangan barang - adalah timbulnya wabah penyakit, pada saat terjadi banjir maupun sesudahnya. Kita ketahui terdapat beberapa tempat yang dapat menyebarkan penyakit menular, seperti: tempat pembuangan limbah dan tempah sampah yang terbuka, sistem pengairan yang tercemar dan sistem kebersihan yang tidak baik. Air banjir tentunya juga akan menggenangi tempat-tempat sumber bibit penyakit ini, dan membawanya mencemari air yang digunakan masyarakat, baik air PAM maupun air sumur. Air banjir ini biasanya membawa banyak bakteri, virus, parasit dan bibit penyakit lainnya, dan bahkan terkadang terdapat unsur-unsur kimia berbahaya.

Contoh penyakit yang sering timbul pada saat banjir ataupun sesudahnya adalah diarrhea/diare (buang-buang air). Penyakit ini biasanya disebabkan oleh terkontaminasinya sumber air yang digunakan masyarakat. Selain itu, tidak diperhatikannya kerbersihan perorangan juga akan memicu timbulnya penyakit ini. Maka, hal-hal sederhana seperti mencuci tangan sebelum makan, setelah buang air ataupun setelah melakukan pembersihan dan setelah menangani apa saja yang telah tercemar air banjir, harus selalu diingat dan diperhatikan.

Penyakit yang juga kerap timbul pascabanjir adalah penyakit  yang disebabkan oleh nyamuk. Hal ini disebabkan karena banjir bisa memperluas area perkembangbiakan nyamuk.Bibit-bibit penyakit yang dibawa oleh serangga ini adalah termasuk demam berdarah, malaria, dan lain-lain. Untuk mencegah hal ini, hal yang bisa dilakukan dengan menghilangkan tempat-tempat yang menjadi sarang nyamuk seperti tempat sampah, botol atau tempat dimana terdapat genangan air yang terbuka. 

TINDAKAN KESIAPSIAGAAN
Untuk meminimalisir dampak yang diakibatkan oleh datangnya banjir, beberapa hal yang perlu dilakukan yang disebut TINDAKAN KESIAPSIAGAAN, yaitu :
  • Kenali daerah tempat tinggal  dan daerah sekitarnya; apakah cukup tinggi untuk terhindar dari banji atau pasti akan terkena banjir.
  • Lakukan persiapan-persiapan untuk mengungsi. Bila memungkinan, latihan pengungsian dapat dilakukan sebelumnya sehingga dapat mengetahui jalur evakuasi, tempat evakuasi, dan tujuan evakuasi apabila terjadi banjir.
  • Sebarluaskan informasi mengenai ancaman banjir serta dampak yang dapat terjadi pada saat dan sesudah banjir sehingga masyarakat lebih siap menghadapi dan memperhitungkan ancaman banjir.
Selain upaya-upaya diatas, beberapa tindakan yang harus dilakukan di rumah untuk meminimalisir 
dampak banjir adalah:
  • Simpan surat-surat penting di tempat yang tinggi, kedap air, dan aman.
  • Naikkan panel-panel dan alat-alat listrik ke tempat yang lebih tinggi, sekurang-kurangnya 30 cm diatas garis ketinggian banjir maksimum
  • Pada saat banjir, tutup kran saluran air utama yang mengalir ke dalam rumah.
  • Pindahkan barang-barang rumah tangga ke tempat yang lebih tinggi 
SAAT BANJIR TERJADI
  • Saat terjadi banjir, kepanikan tentu saja menjadi hl yang lumrah. Meski begitu, akan jauh lebih baik jika kita bisa bersikap tenang dan melakukan hal-hal di bawah ini:
  • Segera selamatkan diri ke tempat yang aman seperti yang sudah diketahui sebelumnya.
  • Jika memungkinkan, ajaklah anggota keluarga atau kerabat dan orang-orang disekitar anda untuk menyelamatkan diri.
  • Selamatkan barang-barang berharga sehingga tidak rusak atau hilang terbawa banjir.
  • Pantau kondisi ketinggian air setiap saat sehingga menjadi dasar untuk tindakan selanjutnya.
PASCA BANJIR
Setelah banjir selesai, beberapa hal tetap harus dilakukan terutama untuk mencegah terjadinya penyakit yang biasanya akan timbul setelah banjir. Walaupun banjir adalah air berlimpah, kita tetap harus memperhatikan kebersihan air yang digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa hal yang mesti dilakukan adalah :
  • Tetap pergunakan air bersih untuk mencuci piring, mencuci pakaian dan membersihkan sisa-sisa banjir didalam rumah.
  • Rebus atau proses air minum sebelum digunakan. Merebus air bisa membunuh bakteri dan parasit. Rebus dan biarkan air mendidih sekurang-kurangnya selama 7 menit.
  • Gosok gigi hanya dengan air bersih yang sudah direbus.
  • Untuk mandi, mencuci dan membersihkan sisa-sisa banjir didalam rumah bisa menggunakan air yang dicampur dengan antiseptik yang banyak dijual, atau bisa mencampur air dengan klorin atau yodium. Untuk air dengan klorin  yaitu dengan memcampur  4 tetes klorin pemutih pakaian tanpa pewangi (5,25% sodium hypochlorite) dalam 2 liter air. Campur dengan baik dan biarkan, kalau bisa dibawah matahari, selama 30 menit. Jika menggunakan yodium, campurkan 11 tetes yodium (2%) ke dalam 2 liter air. Jika menggunakan tablet pemurni air, ikuti instruksi penggunaannya. Jumlah klorin dan yodium harus digandakan jika air sangat kotor dan keruh. Cara ini cukup baik untuk mengolah air tapi tidak bisa membunuh semua kuman atau parasit. Jadi untuk kebutuhan minum dan memasak tetap mesti menggunakan air yang direbus.
 PEMBERSIHAN DI RUMAH SETELAH BANJIR
Setelah menentukan suatu daerah aman dari banjir, maka dapat dilakukan pembersihan lingkungan rumah agar bibit-bibit penyakit dapat dihilangkan. Dalam hal ini, semua permukaan rumah harus dibersihkan dan diberi obat pembasmi kuman untuk mencegah tumbuhnya jamur dan lumut. Jika memungkinkan, sepatu karet dan sarung tangan sebaiknya dikenakan selama melakukan proses pembersihan ini.
  • Dinding, lantai dan permukaan lain harus dibersihkan dengan air sabun dan diberi obat pembasmi kuman dengan campuran 1 cangkir cairan pemutih per 2 liter air.
  • Perhatian khusus diberikan pada tempat-tempat bermain anak-anak dan tempat-tempat makanan seperti dapur, meja makan, lemari makanan, kulkas dl
  • Untuk barang-barang yang sulit dibersihkan, seperti kasur, kursi-kursi dengan jok, dll, keringkan diluar rumah dibawah panas matahari dan kemudian diberi obat  pembasmi kuman. Barang-barang yang tidak bisa dibersihkan sebaiknya di buang saja.
 Hal yang perlu diingat adalah bahwa bibit-bibit penyakit seperti bakteri dan jamur bisa tumbuh dan berkembang lama setelah tindakan pembersihan selesai. Oleh sebab itu, disarankan pada masyarakat yang daerahnya telah dilanda banjir untuk mengadakan tindakan pembersihan berulang kali.
Dikarenakan kebersihan adalah upaya terus menerus untuk menjaga kesehatan, maka pola hidup bersih sudah selayaknya menjadi gaya hidup kita semua. Beberapa tindakan untuk menjaga kebersihan dalam jangka panjang adalah sebagaimana berikut:
  • Buatlah pagar untuk mengelilingi tempat air bersih supaya binatang tidak dapat masuk dan mengotori air bersih.
  • Bakarlah sampah yang dapat dibakar. Sampah yang tidak dapat dibakar sebaiknya ditanam dalam lubang khusus. Jarak lubang sampah paling tidak 20 meter dari pemukiman dan 500 meter dari sumber air bersih.
  • Buanglah barang-barang yang sudah kotor terkena air banjir.
  • Jangan buang air besar maupun kecil didekat tempat air bersih ataupun rumah pemukiman.
  • Selalu mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air bersih   

Dari berbagai sumber

Friday, 23 December 2011

Ibu, Peletak Dasar Prilaku Sehat dan Gizi Seimbang dalam Keluarga

Menjadi ibu rumah tangga sering dianggap pekerjaan yang remeh-temeh oleh kebanyakan orang. Anggapan ibu rumah tangga yang hanya bergelut dengan “dapur” dan “kasur” kadang membuat sebagian ibu merasa minder jika ditanya mengenai pekerjaan dengan mengatakan “aku saya cuma Ibu rumah tangga”. Apalagi jika latar ibu rumah tangga tersebut seorang yang berpendidikan tinggi, dianggap punya potensi untuk berkarir. Seringkali terdengar komentar yang ditujukan kepada wanita yang memilih mengabdikan hidupnya untuk keluarga ini dengan nada yang menyayangkan. Misalnya “Sayang ya sudah sekolah tinggi-tinggi cuma jadi ibu rumah tangga”.  Demikian Dr. Fitria N. Pulukadang mengawali peresentasinya pada diskusi terbatas yang diselenggarakan Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi , dalam rangka Hari Ibu ke 83 Tahun 2011, di CafĂ© Nona Bola, Jakarta Pusat, Senin pagi (19/12).
Lebih lanjut, Fitria yang kini menjadi aktivis dan Pengurus Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, mengatakan ibu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya, tempat dimana anak mendapat asuhan dan diberi pendidikan pertama bahkan mungkin sejak dalam kandungan. Seorang ibu secara sadar atau tak sadar telah memberi pendidikan kepada sang janin, karena menurut penelitian bahwa bayi dalam kandungan sudah bisa mendengar bahkan ikut merasakan suasana hati sang ibunda. Belum lagi pendidikan yang diberikan pada saat ibu menyusui bayinya.Tak heran jika ikatan emosional dari seorang ibu kepada anak tampak lebih dibanding dengan dari ayah. Melihat pentingnya peran ibu, ibu hamil, dan bahkan calon ibu, sehingga ia harus mendapatkan perhatian serius.Kita harus bisa melindungi ibu dari berbagai himpitan masalah gizi dan kesehatan.
Dari sisi status kesehatan , angka kematian ibu (AKI) Indonesia secara Nasional dari tahun 1994 sampai dengan tahun 2007, dimana menunjukkan penurunan yang signifikan dari tahun ke tahun. Berdasarkan SDKI survei terakhir tahun 2007 AKI Indonesia sebesar 228 per 100.000 Kelahiran Hidup, meskipun demikian angka tersebut masih tertinggi di Asia.Prevalensi nasional kurang energi kronis pada perempuan usia subur (berdasarkan LILA yang disesuaikan dengan umur) adalah 13,6%.  Sebanyak 10 provinsi mempunyai prevalensi kurang energi kronis pada perempuan usia subur di atas prevalensi nasional, yaitu DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Sementara itu, nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa adalah 13,00 g/dl. Sebanyak 17 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin pada perempuan dewasa dibawah nilai rerata nasional, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku, dan Maluku Utara. Sedangkan kondisi anemia pada ibu hamil memperbesar resiko kematian saat melahirkan serta penyakit pasca melahirkan. Jika masalah anemia pada perempuan dewasa ini tidak juga diatasi maka angka kematian ibu (AKI) masih dikhawatirkan sulit untuk diturunkan.
Masalah kesehatan lain yang dihadapi oleh kaum ibu atau perempuan adalah infeksi HIV/AIDS. Jumlah perempuan yang terinfeksi HIV AIDS di Indonesia terus meningkat dengan cepat. Di Indonesia saat ini terdapat sekitar 40.000 ibu rumah tangga yang  terkena HIV AIDS karena tertular dari suami mereka. Semuanya itu menujukkan masih rendahnya perhatian dan belum bisanya kita menempatkan ibu pada kedudukan yang terpandang, ungkap Fitria.
Pada kesempatan yang sama Dr. Tirta Prawita Sari, MSc, Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi  mengungkapkan bahwa golongan yang paling rentan terhadap kekurangan gizi adalah ibu hamil, bayi, dan balita. Bahkan jauh sebelum ia hamil terkadang sudah rentan. Tingginya prevalensi anemia dan kurang energi protein pada ibu hamil, atau bahkan juga bagi kelompok wanita usia subur, menjadi petunjuk kerentanan itu.Tak hanya itu, buruknya sistem pelayanan kesehatan ibu hamil, persalinan, dan angka kematian ibu yang masih tinggi, serta tidak masuknya kehamilan dalam item yang ditanggung oleh sistem asuransi, menjadi pertanda lain betapa bangsa ini abai dalam mengelola asetnya. Membiarkan ibu hamil dan juga perempuan usia subur berada dalam keadaan kurang gizi berarti telah menempatkan bangsa ini dalam bahaya, imbuh Tirta.Tirta, yang juga dosen Ilmu Gizi Klinik Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, menyatakan bahwa ibu atau perempuan usia subur merupakan investasi sempurna bila ingin mendapatkan bangsa dengan status gizi yang baik. Kehadirannya bukan hanya karena menjadi ladang persemaian benih atau tempat menumbuhkan generasi baru, namun peran lain yang lebih mendasar.
Ibu adalah peletak dasar segala prilaku sehat di rumah. Seorang ibu yang telah tercerahkan oleh pentingnya nutrisi dan kesehatan akan menjadi lokomotif bagi keluarga dalam menjamin ketersedian gizi seimbang. Bahkan dalam keterbatasan sumber daya ekonomi, seorang ibu yang telah memahami gizi mampu menyediakan makanan dengan gizi seimbang, karena sejatinya, gizi seimbang bukanlah makanan mewah yang begitu sulit untuk diperoleh. Gizi seimbang haruslah dapat dipenuhi oleh kelompok sosial ekonomi apapun dan sebaiknya haruslah mengikuti kearifan lokal, sehingga mudah diperoleh oleh keluarga.Pendidikan secara kontinyu pada kelompok ibu dan kemudian diterapkan akan menjadi “proyek” efektif dan efisien untuk mengatasi masalah gizi di Indonesia. Tak perlu program ambisius yang menyita banyak dana, cukup siapkan saja sepasukan ibu sadar gizi, maka bangsa ini insya Allah akan terlindungi dari segala masalah gizi. Sebagai contoh adalah pemerintah Gambia yang telah berhasil mengatasi masalah kurang energi protein pada wanita hamil. Mereka menyediakan biskuit tinggi energi bagi wanita hamil untuk mengatasi masalah tingginya prevalensi bayi berat lahir rendah, dan upaya ini ternyata berhasil menurunkan prevalensi tersebut hingga 50% (1997).
Contoh lain menurut Tirta, yang berkaitan ketepatan target dan intervensi bisa dipelajari dari pemerintah Nigeria. Analisis masalah yang kuat terhadap masalah gizi akan menghasilkan problem solving yang efektif. Wanita di desa Kwaren Sabre, Nigeria memiliki beban kerja yang sangat tinggi. Setiap harinya mereka harus bekerja di ladang, akibatnya tak banyak waktu dan energi yang tersedia untuk mengurus anak-anak mereka, sehingga banyak ditemukan anak dengan status gizi kurang. Kondisi ini kemudian disikapi dengan mengurangi tanggung jawab ibu untuk bekerja di luar rumah, supaya mereka memiliki banyak waktu untuk memperhatikan dan mengasuh anak-anaknya. Pengurangan beban kerja ini berhasil menurunkan angka malnutrisi sebanyak 10% dalam waktu satu tahun (1995 – 1996).
Dari contoh di atas, jelas menunjukkan bahwa gizi seimbang itu tak hanya meliputi penyediaan dan proses pengolahan, namun bagaimana ia dihantarkan hingga masuk kedalam sistem pencernaan anak. Persoalan utama dari rendahnya asupan gizi seimbang pada anak, bukan hanya terletak pada ketersediaan pangan yang baik dan penanganan penyakit infeksi, tetapi lebih pada kecerdasan ibu dalam memberikan pendekatan persuasif dan ketersedian waktu untuk mencurahkan perhatian terhadap anak agar mau menyantap menu seimbang tersebut.Upaya persuasi tersebut bukanlah hal sederhana, mengingat setiap anak memiliki selera dan kemerdekaaan dalam menentukan kesukaan mereka. Dan agar upaya ini berhasil, seorang ibu juga harus mampu mengendalikan faktor eksternal anak yang akan mempengaruhi selera anak. Ibu adalah pembentuk pola makan seimbang bagi anak. Seorang ibu yang tidak menyukai ikan biasanya secara tak sadar akan menularkan ketidak-sukaan tersebut pada anaknya. Ibu yang melek gizi akan menyiapkan preferensi anak dari sejak dini, ia akan menyiapkan anak untuk hanya menyukai makanan bergizi baik. Ibu adalah peletak dasar prilaku sehat di rumah dan proteksi utama masalah kesehatan sebuah keluarga dari segala bahaya kesehatan, ungkap Tirta dalam menutup paparannya.

sumber : www.sadargizi.com