Tuesday, 5 May 2015

HARI BAKTI DOKTER INDONESIA 2015




DOKTER UNTUK BANGSA,
STRATEGI MERAWAT INDONESIA


LATAR BELAKANG 

Fakta sejarah membuktikan bahwa proses pembentukan fondasi negara Indonesia pada awal abad Ke-20 diawali dengan sebuah gagasan besar dari  para emansipator bangsa yang tumbuh sebagai proses di dalam kelompok sosial masyarakat yang berupaya meningkatkan diri menuju suatu kedudukan intelektual, sosial, ekonomi, politik, budaya, gender yang lebih layak dan menjadi bagian yang integral dalam tata kehidupan masyarakat .Gagasan besar yang muncul atas kondisi bangsa saat itu yang sedang “sakit “ dengan berbagai krisis dan permasalahan .

Salah satu komponen emansipator bangsa tersebut adalah kelompok dokter pribumi sebagai pelopor semangat nasionalisme dan kesadaran berbangsa. Hal ini kemudian tertuang dalam sejarah sebagai Kebangkitan Nasional yang merupakan perjuangan untuk mengubah keadaan “belum bangkit” menjadi keadaan “bangkit” yang dicita-citakan tentang nasib dan kedudukan bangsa secara keseluruhan di kemudian hari. Peran dan keberadaan para dokter pada saat itu tidak terlepas dari watak yang dibentuk melalui proses pendidikan kedokteran disertai sumpah serta etika yang harus dipatuhinya sebagai seorang dokter .

Sebuah gagasan dan semangat besar yang kemudian menjadi embrio dan katalisator kesadaran berbangsa dan pada gilirannya melahirkan semangat berdirinya Boedi Oetomo . Perkumpulan Boedi Oetomo didirikan oleh mahasiswa kedokteran STOVIA yaitu Soetomo, Suraji Tirtonegoro, Gunawan Mangunkusumo, Muh Saleh dan kawan-kawanya .Sutomo dan Suraji sebagai pelaku utama pendirian Boedi Oetomo dimotivasi oleh perjuangan Dr Wahidin Soedirohoesodo. Cita-cita Boedi Oetomo saat itu adalah “ Kemajuan nusa dan bangsa yang harmonis dengan jalan memajukan pengajaran, pertanian , peternakan, perdagangan , teknik dan industry , kebudayaan mempertinggi cita-cita kemanusiaan untuk mencapai kedudukan bangsa yang terhormat “. Cita-cita yang menyatakan dengan tegas konsep-konsep masa kini tentang Visi, Misi, Strategi dan Nilai –nilai Inti dan tujuan Inti terutama dalam rangka mewujudkan bangsa yang berdaulat, merdeka, teremansipasi dan sederajat dengan bangsa-bangsa merdeka yang lain.
Menjelang 107 tahun Hari Kebangkitan Nasional yang sejak dicanangkannya oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia sebagai Hari Bakti Dokter Indonesia pada tahun 2008 ( 20 Mei 1908 – 20 Mei 2015 ).  Apakah gagasan besar para tokoh-tokoh kebangsaan para dokter pendiri Budi Utomo sudah terealisasi saat ini ?Apakah kondisi kekinian masih dibutuhkan gagasan besar untuk memulihkan kondisi bangsa?Sebagai komunitas intelektual kesehatan, Ikatan Dokter Indonesiadengan anggota  total lebih dari 100.000 orang dokter mempunyai tanggung jawab sosial ( Profesional Social Responsibility ) untuk memajukan sektor kesehatan Indonesia dan berperan aktif menghasilkan dokter-dokter masa kini yang bersama-sama berjuang dan berikhtiar dalam kebaikan demi terwujudnya bangsa dan Negara yang berdaulat dan bermartabat  di bidang kesehatan , adil dan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia dengan harapan yang sangat tinggi untuk terciptanya sistem kesehatan nasional yang lebih baik untuk mendukung tercapainya derajat kesehatan yang optimal dan tinggi menuju pembangunan kesehatan yang membentuk masyarakat berdaulat untuk hidup sejahtera dan sehat .
Kesehatan merupakan dimensi penting yang menjadi salah satu pilar pembangunan bangsa.Hal ini dikarenakan kesehatan memainkan peranan strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan.Untuk mewujudkan serta menunjang akselerasi pencapaian peran strategis tersebut maka dibentuklah sistem kesehatan nasional (SKN) yang merupakan pilar dari sistem ketahanan nasional sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden No. 72 Tahun 2012, yang menjadi peta jalan dalam mewujudkan masyarakat sehat dengan derajat kesehatan setinggi-tingginya.

Tuntutan masyarakat terhadap nilai sosial dan pengabdian dokter semakin tinggi .Hal ini menimbulkan pertanyaan di kalangan profesi : Apa saja bentuk pengabdian yang telah kita lakukan terhadap masyarakat Indonesia? Bentuk pengabdian seperti bagaimana lagi yang dibutuhkan Masyarakat ? . Dua pertanyaan yang sebenarnya membuktikan bahwa kontribusi pengabdiandokter di Indonesia sudah dilakukan sejak zaman dahulu bahkan sebelum kemerdekaan . Sejarah Indonesia sudah membuktikan dan mencatat akan peranan sentral para dokter Indonesia dalam pembentukan fondasi Negara pada era Kebangkitan Nasional .

Dokter selalu berada di tengah-tengah rakyat dalam pembangunan bangsa .Dokter juga rakyat yang membutuhkan perlindungan Negara dan ingin Negara juga selalu berada di tengah-tengah dokter .Dokter juga rakyat yang membutuhkan kesejahteraan dan rasa keadilan dalam kehidupan berbangsa ini.

Selain itu perlu dilakukan gerakan bersama dokter membangun kesehatan dan kesejahteraan rakyat Indonesia , gerakan yang menghimpun dan mengerahkan segenap potensi dokter bersatu padu bersama rakyat untuk menyehatkan dan mensejahterakan  bangsa. Revitalisasi peran dokter dalam pembentukan karakter dokter pemimpin intelektual dan professional dalam pembangunan bangsa untuk mewujudkan ketahanan nasional menuju Indonesia sehat yang berdaulat dan berkeadilan perlu dilakukan secara terus menerus dengan menjadikan Hari Kebangkitan Nasional yang juga Hari Bakti Dokter Indonesia sebagai reminding peran dan baktinya kepada bangsanya.

Persoalan kesehatan sendiri saat ini sebagai suatu faktor utama dan investasi berharga yang pelaksanaannya didasarkan pada sebuah paradigma baru yang biasa dikenal dengan paradigma sehat, yakni paradigma kesehatan yang mengutamakan upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan kuratif dan rehabilitatif.
Dalam komponen pembangunan kesehatan tidak akan terlepas dari peran sentral para dokter .Pada dokter adalah intelektual yang dalam menjalankan profesinya langsung berhadapan atau berada di tengah masyarakat dibekali nilai profesi yang menjadi kompas dalam segala bidakannya. Nilai profesi itu antara lain adalah kemanusiaan (humanism), etika (ethics) dan kompetensi (competence). Dimanapun dokter ditempatkan seyogianya ia menjalankan peran intelektual profesional.Itulah yang dilakukan dokter Wahidin dan para sejawatnya lebih dari seabad yang lalu jauh sebelum adanya rekomendasi WHO.
Karena itu peran dokter saat ini untuk berperan aktif bersama seluruh komponen bangsa untuk “ merawat “ Negara Republik Indonesia untuk dapat bebas dari sakit akibat krisis dan permasalahan yang terjadi pada saat ini . Dokter tidak hanya menjadi agent of treatment tapi juga harus menularkan nilai profesi dan kecendikiawanannya sehingga membuatnya menjadikan agent of mental-social change dan agent of development dalam “merawat “ NKRI.
TEMA : “GERAKAN DOKTER UNTUK BANGSA – STRATEGI MERAWAT INDONESIA
Dengan nilai-nilai luhur profesi dan trias peran dokter serta dalam rangka memperingati Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei 2015, Ikatan Dokter Indonesia berkeinginan menumbuhkan semangat baru yaitu  “DOKTER UNTUK BANGSA – STRATEGI  MERAWAT INDONESIA ”.
Merawat Indonesia adalah sebuah upaya strategis menjaga keberlangsungan pembangunan nasional dan menjaga ketahanan nasional untuk menjamin tercapainya kehidupan bangsa dan Negara yang sejahtera, adil dan makmur. Ketahanan Nasional merupakan integrasi dari kondisi tiap aspek kehidupan bangsa dan negara. Ketahanan Nasional merupakan kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan hidupnya menuju kejayaan bangsa dan negara. Secara timbal-balik Ketahanan Nasional yang tangguh akan lebih mendorong Pembangunan Nasional dan berhasilnya Pembangunan Nasional akan meningkatkan Ketahanan Nasional. Sehingga Pembangunan sektor kesehatan sebagai bagian dari Pembangunan Nasional yang dilaksanakan secara terencana, adil, merata dan berkesinambungan akan memberikan kontribusi yang sangat penting dalam upaya strategis merawat Indonesia.
Sehat dan sejahtera merupakan modal untuk kelangsungan Pembangunan Nasional. Bangsa yang sakit akan menurun kemampuannya dalam Pembangunan Nasional. Bangsa yang sakit akan memiliki Ketahanan Nasional yang lemah. Namun faktanya kesehatan belum sepenuhnya dipandang sebagai unsur penting  Ketahanan Nasional. Cara pandang dan kepemimpinan yang memahami kesehatan sebagai pengobatan saja (paradigma sakit) dan tanggung jawab sektor kesehatan saja, bukan tanggung jawab semua sektor, tidak menempatkan kesehatan sebagai mainstream pembangunan nasional dan tidak menempatkan kesehatan sebagai penopang penting Ketahanan Nasional. Pembangunan Nasional yang dilaksanakan berbagai sektor belum fokus membangun bangsa yang sehat. sehingga banyak anak bangsa sebagai generasi penerus belum secara optimal terlindungi dan terjamin kesehatannya
Peran dokter dalam melakukan upaya strategis merawat Indonesia melalui pembangunan kesehatan diharapkan dapat melakukan intervensi menyeluruh terhadap permasalahan kesehatan bangsa dengan tidak hanya terfokus kepada intervensi terhadap permasalahan kesehatan fisik semata dan juga tidak hanya terfokus pada upaya kuratif dan rehabilitatif. Kecukupan gizi, penyediaan air bersih, penyediaan lingkungan yang sehat, upaya pendidikan berperilaku sehat  serta penyediaan pemeliharaan kesehatan yang baik merupakan 5 Agenda pembangunan kesehatan penting dalam melakukan upaya yang kondusif bagi tumbuhnya sumber daya manusia masa depan yang handal dan aset bangsa untuk menopang Ketahanan Nasional. Demikian pula apabila 5 Agenda pembangunan kesehatan tersebut dilaksanakan di daerah-daerah terpencil, kepulauan dan perbatasan secara baik dan berkesinambungan akan mencegah potensi ancaman desintegrasi bangsa.
Kemudian yang tidak kalah pentingnya, dalam upaya merawat Indonesia, para dokter diharapkan melakukan intervensi yang lebih intensif terhadap permasalahan kesehatan mental dan sosial bangsa, karena pada dasarnya sehat itu bukan semata-mata terbebas dari sakit fisik sebagaimana World Health Organization menyatakan bahwa : “......Health is a state of complete physical, mental and social well-being, and not merely an absence of disease or infirmity...” . Bangsa yang sakit secara mental dapat dicirikan dari gejala-gejala gangguan mental seperti: tidak merasa puas dengan keadaan dirinya ; tidak patuh pada berbagai aturan ; tidak memiliki kendali diri yang baik. Bangsa yang sakit secara sosial dapat dicirikan dari gejala-gejala sosial yang patologis seperti : tidak mampu membina hubungan keakraban dengan sesama ; tidak memiliki tanggung jawab menurut kapasitas yang dimilikinya ; tidak dapat hidup rukun dengan sesama ; dan tidak mampu menunjukkan perilaku sosial yang penuh perhitungan. Memperhatikan  ciri-ciri tersebut, nyata sekali bahwa saat ini bangsa Indonesia bukan hanya dihantui oleh berbagai macam penyakit fisik, akan tetapi juga sedang mengalami sakit mental-sosial yang juga sangat berpotensi sebagai ancaman disintegrasi bangsa dan melemahkan Ketahanan Nasional.
II. TUJUAN KEGIATAN
Menumbuhkan, mengembangkan dan membina Gerakan Bersama Dokter Untuk Bangsa untuk merawat negara kesatuan Republik Indonesia dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh Rakyat Indonesia .
III. RUANG LINGKUP
a. Sasaran
  Para pimpinan nasional/daerah dan penyelenggara negara
  Perusahaan BUMN, Swasta, Multinasional
  Organisasi sosial/kemasyarakatan
  Seluruh masyarakat Indonesia
  Seluruh anggota IDI
b. Jangkauan
Seluruh IDI Wilayah dan IDI Cabang serta Perhimpunan yang berada dilingkungan IDI  yang tersebar di Indonesia bekerja sama dengan semua mitra yang terkait.
IV. STRATEGI  KEGIATAN
Kegiatan yang dilakukan sebagai  agenda strategis untuk merawat dan memelihara Indonesia dalam bidang kesehatan yang meliputi :
a)  Advokasi kepada pengambil kebijakan, pemerintah pusat, pemerintah daerah dan stakeholder terkait .
b) Kampanye dan upaya promosi kesehatan, terkait dengan kampanye paradigma sehat , kesehatan anak dan remaja , ketahanan gizi dan pangan serta kampanye air bersih serta penanaman nilai2 kesehatan sejak usia dini .
c)  Pelayanan langsung sebagai wujud bakti dokter kepada masyarakat , melalui kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis dsb .
d) Mempelopori dan mengajak partisipasi masyarakat, bersinergi dengan kegiatan kampanye dan promosi kesehatan.
e) Mendorong agar pemerintah dan seluruh warga bangsa lebih mencintai dan memprioritaskan faskes, dokter dan Sumber daya bangsa sendiri dalam menghadapi kompetensi keras pada era globalisasi
 V. BENTUK – BENTUK KEGIATAN   
Dalam upaya melaksanakan strategi kegaiatan diatas dilakukan bentuk kegiatan sebagai berikut :
   A. DISKUSI KEBANGSAAN DAN HARI BAKTI DOKTER INDONESIA  
       Tujuan :
1.Melakukan refleksi sejarah kebangkitan bangsa yang dipelopori oleh dokter.
2. Memberikansemangatpengabdianbagiseluruhdokter Indonesia.
3. Mendorong  negara untuk peduli kepada mutu pelayanan kesehatan di era jaminan kesehatan nasional.
4.Menggugah pandangan rakyat dan seluruh pihak bahwa dokter tetap mengadikan dirinya demi nusa dan bangsa.

Sasaran:
1.         Anggota IDI
2.         Wartawan Media
3.         Undangan 

Pelaksananan:
1.       Setiap bulan
2.       Menjelang hari H
3.       Setiap ada momentum

      B.  GERAKAN DETEKSI DINI CANCER SERVIK DENGAN METODE IVA 
          Tujuan :
1.Gerakan bersama meneguhkan komitmen profesi untuk menanggulangi angka kematian karena cancer servik.
2.Gerakan bersama meneguhkan komitmen profesi untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan Indonesia.

Sasaran : 150.000  perempuan Indonesia

    Pelaksanaan :
1.      Kegiatan ini diselenggarakan mulai tanggal 20 Mei – 24Oktober  2015
2.      Dilaksanakan serentak oleh PB IDI, IDI Wilayah dan IDI Cabang seluruh Indonesia, serta Perhimpunan di lingkungan IDI.

       C.  GERAKAN 1 JUTA TELUR UNTUK ANAK INDONESIA
           Tujuan :
1.Gerakan bersama meneguhkan komitmen profesi untuk menanggulangi angka kurang gizi.
2.Gerakan bersama meneguhkan komitmen profesi untuk meningkatkan kualitas hidup generasi penerus dan aset sumber daya manusia bangsa.

Sasaran :
1 juta anak Indonesia usia di bawah 2 tahun (BADUTA)

Pelaksanaan :
1. Kegiatan ini diselenggarakan mulai tanggal 20 Mei – 24 Oktober  2015
2. Dilaksanakan serentak oleh PB IDI, IDI Wilayah dan IDI Cabang seluruh Indonesia, serta Perhimpunan di lingkungan IDI.

D.   PENERBITAN BUKU INDONESIANCARING PHYSICIAN  “DOKTER UNTUK BANGSA,  PENGABDI  KEMANUSIAAN”
Tujuan  :
1.  Gerakan bersama meneguhkan komitmen profesi untuk senantiasa menumbuhkan jiwa dan semangat pengabdian untuk kemanusiaan.
2. Gerakan bersama meneguhkan komitmen profesi untuk meningkatkan penghormatan pada nilai-nilai luhur kesejawatan profesi.
Sasaran :
65 orang dokter pengabdi di daerah terpenciL, perbatasan dan kepulauan
Pelaksanaan :            
1.       Kegiatan ini diselenggarakan mulai tanggal 1 Maret – 24 Oktober 2015
2.        Dilaksanakan oleh PB IDI

E.    PENERBITAN BUKU 65 TAHUN IKATAN DOKTER INDONESIA
Tujuan           :
1.Gerakan bersama profesi untuk senantiasa melakukan self –correction secara terbuka dan bermartabat.
2. Gerakan bersama profesi untuk senantiasa berusaha melakukan  revitalisasi perannya untuk kemanusiaan.
Sasaran          :
·  Tokoh-tokoh Indonesia di berbagai bidang yang memiliki pandangan tentang kesehatan
Pelaksanaan :            
1.    Kegiatan ini diselenggarakan mulai tanggal 1 Maret – 24 Oktober 2015
2.    Dilaksanakan oleh PB IDI

F.         DOKTER KECIL AWARD 2015
Tujuan  :
1. Gerakan bersama meneguhkan komitmen profesi untuk mendidik sejak dini perilaku hidup bersih dan sehat anak Indonesia.
2. Gerakan bersama meneguhkan komitmen profesi untuk mendorong terbentuknya “pendidik sebaya”  guna membangun generasi muda pelopor di bidang kesehatan.
Sasaran          :
65 anak Indonesia usia sekolah


Pelaksanaan :     
1.      Kegiatan ini diselenggarakan mulai tanggal Mei – Oktober 2015
2.      Dilaksanakan oleh PB IDI dan IDI Wilayah/IDI Cabang

      G.  Rangkaian Kegiatan HBDI oleh Perhimpunan
        Diharapkan setiap Perhimpunan membuat kegiatan bakti sosial  HBDI        sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing  atau yang sudah                    mempunyai agenda kegiatan sosial pada tahun ini, agar dipadukan            dengan kegiatan HBDI 2015.






- 0 -


Monday, 2 June 2014

ORASI SUTOMO 2014




 


ORASI SUTOMO
Oleh: Dr. ZAENAL ABIDIN, M.H.
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia
Depok,  1 Juni 2014

REFLEKSI HARI BAKTI DOKTER INDONESIA:
PELAYANAN KESEHATAN SEBAGAI PENOPANG UTAMA KETAHANAN DAN KEDAULATAN BANGSA

Sutomo, seorang mahasiswa sekolah kedokteran Stovia bersama kawan-kawannya mendeklarasikan berdirinya Perkumpulan Budi Utomo. Perkumpulan yang didirikan 106 tahun yang lalu, tepatnya 20 Mei 1908 adalah organisasi modern pertama di Indonesia yang bertujuan meningkatkan derajat kehidupan bangsa. Gerakan yang dipelopori oleh mahasiswa kedokteran tersebut tentu tak dapat dipisahkan dengan gerakan-gerakan kebangsaan setelahnya hingga mencapai pada puncaknya diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.
Bahkan peristiwa bersejarah yang hari ini diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila, tak dapat dipisahkan pergerakan yang dipelopori oleh dokter Indonesia di masa lalu. Tercatat dalam sejarah bahwa Dr. K.R.T. Radjiman Wediodiningrat yang ketika itu menjabat sebagai Ketua BPUPKI. Pengakuan atau kepemimpinan Radjiman dalam sidang BPUPKI, yang kemudian melahirkan Pancasila sebagai dasar Negara dapat disimak dalam pidato Bung Karno pada sidang BPUPKI tahap pertama, tanggal 1 Juni 1945:
“ Paduka Tuan Yang Mulia! Sudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokoritzu Zyumbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari paduka Tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pula pendapat saya. Saya akan menepati permintaan paduka Tuan Ketua yang mulia. Apakah permintaan paduka Tuan Ketua yang mulia? Paduka Tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokoritzu Zyumbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini. Maaf beribu maaf! Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal yang sebenarnya bukan permintaan paduka Tuan Ketua yang mulia, yaitu buka dasar Indonesia merdeka. Menurut anggapan saya yang diminta paduka Tua Ketua yang mulia ialah, dalam bahasa Belanda Philosofische grondslag dari dari pada Indonesia merdeka. Philosofische grondslag, itulah fondamen, filasafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal yang abadi...”
Semangat Budi Utomo yang diprakarsai oleh Sutomo dan kawan-kawan, yang pula tidak dapat dipisahkan semangat dan inspirasi tokoh dokter senior, seperti Dr. Wahidin Sudirohusodo. Keseluruhan peristiwa dan gerakan ini lahir dari nilai-nilai luhur  profesi dokter yang bersatu padu dengan nilai-nilai nasionalisme kebangsaan yang diyakininya. Profesi dokter yang dalam menjalankan keprofesiannya tidak terpengaruh oleh pertimbangan suku, agama, status sosial, jenis kelamin, pilihan politik, serta kepentingan pribadi dan kelompok. Profesi yang selalu prihatin dan berpihak kepada yang miskin dan lemah.
Permasalahan kesehatan di Indonesia tentunya membutuhkan upaya-upaya untuk berikhtiar dalam melakukan rekonstruksi dalam pembangunan sistem kesehatan nasional dengan tetap berpegang teguh dalam merawat nilai-nilai kebangsaan dan ke-Indonesiaan. Untuk mewujudkan serta menunjang akselerasi pencapaian peran strategis tersebut maka diperlukan  sistem kesehatan nasional (SKN) yang merupakan pilar dari sistem ketahanan nasional, yang menjadi peta jalan dalam mewujudkan masyarakat sehat dengan derajat kesehatan setinggi-tingginya.
Kesehatan saat ini belum sepenuhnya dipandang sebagai unsur utama Ketahanan Nasional, sehingga anak bangsa sebagai generasi penerus belum secara optimal dilihat sebagai subjek pembangunan kesehatan. Kecukupan gizi, pemeliharaan kesehatan, pendidikan, dan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya sumber daya manusia masa depan yang handal dan aset bangsa untuk menopang Ketahanan Nasional harus lebih mendapatkan perhatian.
Selain pelayanan, pembiayaan yang merupakan penopang pelayanan kesehatan pun juga menjadi masalah karena tidak adekuatnya anggaran kesehatan. Rilis yang dikeluarkan oleh Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran pada 19 September 2012 menyatakan bahwa sejak 2005-2013, rata-rata anggaran kesehatan hanya dialokasikan 2% dari belanja APBN. Hal ini tidak sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan Pasal 171,  yang berbunyi  “ (1) Besar anggaran kesehatan Pemerintah dialokasikan minimal sebesar 5% (lima persen) dari anggaran pendapatan dan belanja negara di luar gaji, (2) Besar anggaran kesehatan pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota dialokasikan minimal 10% (sepuluh persen) dari anggaran pendapatan dan belanja daerah di luar gaji, (3) Besaran anggaran kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diprioritaskan untuk kepentingan pelayanan publik yang besarannya sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari anggaran kesehatan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara dan anggaran pendapatan dan belanja daerah.”
Dalam menilai keberhasilan pembangunan, HDI (Human Development Index) atau Indeks Pembangunan Manusia, merupakan salah satu indikator yang digunakan. HDI memiliki tiga indikator utama, yaitu : kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.
Pada tahun 2012, Indonesia menempati urutan 121 dari 186 negara, dengan indeks 0,629. Posisi ini menurun dibandingkan tahun 2006 yang berada di urutan 109 dari 179 negara dengan indeks 0,726. Posisi ini cukup jauh dibandingkan negara-negara tetangganya, seperti Singapura (urutan 18/ 0,895), Brunei Darussalam (urutan 30/ 0,855), Malaysia (urutan 64/0,769), Thailand (urutan 103/0,690), dan Filipina (urutan 114/0.654). Posisi ini sekaligus mensyaratkan Indonesia berada pada level menengah HDI di dunia. Keadaan ini memperlihatkan bahwa HDI Indonesia masih rendah dengan angka harapan hidup hanya 69,8 tahun menurun dibandingkan pada tahun 2006 yaitu 70,1 tahun. Posisi HDI yang kurang menggembirakan ini, tidak dapat dipungkiri bahwa pembangungan sektor kesehatan merupakan penyumbang yang cukup berarti tehadap kondisi tersebut. Kecilnya anggaran negara terhadap sektor kesehatan yang disertai disparitas pelayanan, akibat tidak tersebar meratanya tenaga professional kesehatan dan fasiltas pelayanan kesehatan, merupakan contoh nyata.
Selain indikator HDI, penilaian pembangunan kesehatan juga diukur dalam pencapaian target Millenium Development Goals (MDG) yang merupakan tujuan pembangunan nasional yang harus dicapai oleh suatu negara pada tahun 2015. Empat dari delapan tujuan tersebut menyangkut sektor kesehatan, antara lain : (1) menurunkan kematian anak, (2) meningkatkan kesehatan ibu, (3) memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, (4) menjamin ketahanan lingkungan.
Keberhasilan pembangunan termasuk pembangunan kesehatan di Indonesia sangat terkait dengan kehadiran paradigma kebangsaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Paradigma kebangsaan pada hakikatnya adalah pola sikap, pola pikir dan pola tindak yang harus melekat dalam setiap sanubari rakyat Indonesia, khususnya para pemimpin- pengambil kebijakan, termasuk pengambil kebijakan di bidang kesehatan. Paradigma kebangsaan merupakan acuan dasar untuk melihat apakah pembangunan nasional termasuk pembangunan kesehatan bangsa Indonesia sudah sesuai dengan tujuan nasional atau tidak.
Paradigma kebangsaan Indonesia telah tertuang di dalam nilai-nilai Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Seharusnya dengan menjalankan secara sungguh-sungguh ke-empat paradigma kebangsaan, yang juga merupakan konsensus nasional tersebut, dapat mengarahkan dan menjamin keberhasilan pencapaian tujuan nasional. Secara lebih spesifik lagi adalah tujuan pembangunan nasional bidang kesehatan merupakan salah satu komponen untuk memajukan kesejahteraan umum dan mempertahankan kedaulatan negara.
Pembangunan kesehatan juga membutuhkan suatu paradigma pembangunan guna mendukung terwujudnya kedaulatan kesehatan bagi rakyat Indonesia. Paradigma tersebut dapat disebut Paradigma Sehat Berdaulat, suatu pandangan pembangunan yang memungkinkan seluruh sumberdaya kesehatan di Indonesia secara berdaulat untuk menentukan sendiri dan menjamin terwujudnya hak-hak kesehatan bagi seluruh rakyat dan bangsanya. Kedaulatan kesehatan lebih dari sekedar berbicara ketahanan kesehatan, apalagi kecukupan kesehatan.
Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk mewujudkan paradigma sehat berdaulat adalah dengan melakukan rekonstruksi pemikiran dan wawasan para pemimpin dan calon pemimpin nasional. Rekonstruksi ini dimaksudkan agar pemimpin dan calon pemimpin  memiliki visi dan misi kepemimpinan untuk menerapkan pradigma sehat berdaulat, sehingga dalam menjalankan kepemimpinannya ia lebih peduli dan menyentuh penyelesaian problematika struktural pembangunan kesehatan. Problematika struktural kesehatan bangsa ini perlu mendapatkan prioritas berupa tujuh langkah optimalisasi, yaitu: 1) Optimalisasi pemerataan pelayanan kesehatan dengan memeratakan tenaga profesional kesehatan strategis dan fasiltas kesehatan primer ; 2) Optimalisasi program public health dengan penekanan pada upaya promotif dan preventif;  3) Optimalisasi sarana sesehatan sersruktur; 4) Optimalisasi program kesehatan ibu dan anak; 5) Optimalisasi pelayanan  gizi kurang dan kewaspadaan terhadap gzi berlebih; 6) Optimalisasi penerapan jaminan kesehatan yang bersifat universal coverage sebagai penopang sistem pelayanan kesehatan perorangan; 7) Optimalisasi program pendidikan kedokteran dan SDM Kesehatan lainnya yang berorientasi kepada sistem pelayanan yang berbasis kondisi sosio-kultural masyarakat Indonesia.
Sudah saatnya dibangun konsep pembangunan kesehatan paripurna yang menggunakan Paradigma Sehat Berdaulat. Saatnya pula pembangunan kesehatan ditata dan diorientasikan untuk memberikan pelayanan kepada seluruh rakyat secara berkeadilan. Karena itu pemerataan pelayanan kesehatan yang bermutu menjadi syarat mutlak dari suatu ikhtiar untuk merawat nilai-nilai kebangsaan dan ke-Indonesiaan. Syarat ini tak mungkin dapat ditawar-tawar. Ikhtiar merawat nilai-nilai kebangsaan tersebut merupakan upaya untuk selalu menghadirkan secara tulus ikhlas ke-empat paradigma nasional yang sekaligus konsensus nasional dalam kehidupan rakyat berbangsa dan bernegara. Membiarkan disparitas pelayanan kesehatan tanpa jalan penyelesaiaan tentu saja menjadi ancaman serius terhadap kedaulatan nasional dan paradigma kebangsaan kita.
Pada kesempatan peringatan hari kebangkitan nasional ini, Ikatan Dokter Indonesia dengan tulus mengajak semua komponen bangsa untuk saling mendukung dan bekerjasama memberikan yang terbaik  agar menjadikan kesehatan ini sebagai mainstream utama dalam menopang ketahanan nasional. . “Kala Winisesa Batara Sri”. Menguasai penyakit akan mendatangkan kesejahteraan.
Salam Sehat Indonesia!